Langsung ke konten utama

Letter from Baby (part 3)


Terdengar suara ombak berdesir terhempas batu karang. Pantai, itu tempat yang dipilih mereka untuk bicara serius. Mereka tau darah dagingnya cepat atau lambat akan tumbuh dalam rahim Disa. Air mata yang tertahan daritadi akhirnya terjatuh juga. Suara tangisnya tak lebih besar dibanding dengan penyesalannya.

"aku merasa bersalah banget sama orangtua kamu Dis. Gak seharusnya kita berbuat bodoh. Kita harus selesaikan semua sebelum terlalu dalam. Kita punya waktu"

‎"waktu untuk apa ?"

‎"waktu untuk perbaiki semuanya. Aku akan berusaha mendekatkan mama sama kamu agar membuka hatinya untuk kamu. Cepat atau lambat mama pasti sadar kamu itu tepat"

‎"berapa lama ? Sampai kapan aku terus-terusan dianggap rival terbesar mama kamu ? Seandainya kamu gak selamatkan aku waktu itu..."

‎"sabar Disa, aku tau perasaan kamu. Tolong beri aku kesempatan untuk berusaha. Kasih aku waktu"

"aku bisa kasih kamu kesempatan. Aku mampu kasih kamu waktu. Aku sanggup nunggu kamu dan sambutan hangat mama kamu. Tapi bayi kita enggak !" Yoga tersentak.

"ba...bayi apa maksud kamu ?"

‎"bayi yang kita tabur benihnya tiga bulan lalu. Bayi yang awalnya bisa jadi pengikat hubungan kita. Tapi aku sadar kita bodoh. Semakin lama aku beri kamu waktu, semakin besar juga bayi yang ku kandung. Mamamu pasti semakin benci melihatku dengan perut yang tak wajar. Dan kamu juga akan terlibat masalah. Aku gak mau itu semua terjadi"

‎"maksudnya, kamu hamil 3 bulan ?" Disa mengangguk, menangis. Yoga tertunduk lesu. Dia masih tak percaya dengan semua yang terjadi. Semakin sulit masalahnya. Dia kini tak mampu berbuat apa-apa. Dia merasa menjadi perusak atas segala cinta yang dimiliki. Cinta kepada mamanya, cinta untuk kekasihnya., dan kini dia harus siap menanamkan cinta untuk calon buah hatinya.

Yoga butuh saran atas apa yang diperbuat. Frandi terpilih menjadi teman curhat sekaligus penasihatnya saat itu. Dari dua pilhan yang disarankan Frandi, pilihan terakhirlah yang menurut mereka tepat. Aborsi. Baginya bila bayi itu tak ada maka hilang sudah satu beban mereka. Mereka tak sadar bahwa setan yang membisikkan perbuatan dosa itu tertawa karena lagi-lagi mereka masuk ke perangkapnya. Mereka tak sadar akan besarnya konsekuensi yang didapat atas perbuatan dosa itu. Hukuman terberat dari Tuhan yang selama ini dijauhinya. Mereka tak pernah tau bagaimana rasanya menjadi bayi yang mereka luruhkan darahnya. Mereka tak pernah tau ada sosok yang menangisi keadaan ini dari tempat yang berbeda. Mereka tak pernah tau betapa buah hatinya kini telah mendoakannya, merindukan kehadiran calon kedua orangtuanya, bersusah payah memohon kepada Tuhan yang maha pengasih agar mereka dapat dipersatukan kembali pada ruh yang kini sedang terisak menyaksikan segala perbuatan dosa dari nirwana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...