Disaat ayah pergi dan aku mulai kelaparan. Saat itu aku mulai mengerti arti sebuah perceraian. Wajar bila aku iri pada kebahagiaa dalam rumah. Bila dibandingkan denganku yang hanya punya kehidupan kelam dan tak berarti. Dan aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya sebuah cinta.
Sayap Patah Topan
Tetesan air yang membasahi kali ini membuatku sedikit menggigil. Pakaianku yang sedang dikenakan kini mulai kuyup oleh derasnya hujan. Aku menusuri jalan. Basah untuk menuju tempat perteduhanku. Tak ada bulan dan bintang yang mengintip, hanya ada awan mendung yang menyelimuti langit malam.
“Ya ampun, kapan berhentiya nih hujan? Kalau gini terus bias - bisa gue gak bias cari duit buat makan malam nanti” keluhku dibalik rimai hujan.
Aku meringkup kedinginan dipojok pos. bibirku mulai membiru dan membeku. Hujan kali ini mengingatkanku pada rasa perih yang membuatku terlunta - lunta dan terbuang dari hangatnya keluarga yang harmonis.
Aku melihat seorang ayah yang sedang menggendong anaknya berpayungan sangat akrab. Ah, tak ada lagi sosok ayah bagiku. Sosok yang telah menelantarkan aku dan ibuku.
“Ah ngapain sih diinget terus ?! Buang - buang waktu gue aja ” gerutuku.
“Woy Topan ! Melamun aja lo ?“ tegur Arif yang mengagetkan lamunanku.
“Eh elo. Ngagetin aja !”
“Bengong aja lo. Makan yuk ! Laper.”
“Ntar aja. Gue belum dapat rezeki nih.”
“Gue yang bayarin deh. Mumpung koran gue laris.”
“Tapi nyokap gue ?”
“Udah gampang. Nanti bungkus juga. Cabut yuk! ”
Tak terasa hujan lebat tadi berhenti . Aku dan Arif melangkah kaki menuju warteg dipinggir rel kereta. Kami makan dengan lahap, maklum dari tadi pagi aku belum makan karena sarapanku untuk ibuku. Ibu pasti senang sekali.
Kulangkahkan kakiku menuju gubuk tempat aku dan ibuku tinggal. Sebenarnya gebuk itu tidak lagi layak untuk dipakai. Tapi apa boleh buat, aku tak punya uang menyewa ibuku rumah yang layak.
“Gubrak....” terdengar suara benda jatuh.
“Ibu..!” teringat olehku disana ada ibu yang sedang terbaring lemah. Kuambil langkah seribu untuk melihatnya.
“Ya ampun ibu !” teriakku cemas saat kulihat ibu pingsan dilantai dengan menggenggam cangkir yang kini pecah. Mungkin tadi ibu mau minum. Segera aku berlari menggendong ibuku keklnik terdekat. Diruangan yang serba hijau itu aku menunggu didepan dengan cemasmengingat keadaan ibuku yang semakin parah setelah ditinggal oleh ayah.
“Siapa keluarga ibu ini ?” tanya suster menghampiriku.
“Saya sus. Kenapa dengan ibu ?”
“Ibu anda tersrang TBC dan harus dirawat. Sebaiknya ibu anda dirawat hari ini juga. Dan kamu harus menyelesaikan juga administrasinya.”
“Baik sus ”. Aku segera memuju loket dan lagsung bertanya soal biayanya.
“Untuk biaya awal dibutuhkan dua juta rupiah untuk rincian biaya pengobatan dan biaya rawat inap. Sebaiknya anda harus segera lunasi hari ini kalau ibu anda ingin dirawat hari ini.”
“Tapi bu, apa tidak bias dibayar setelah ibu saya dirawat ?”
“Maaf dik, tidak bisa. Ini sudah ketentuan klinik kami.”
“Oh, terima kasih kalu begitu.”
Akupun membawa kembali ibuku kerumah. Aku menangis dalam diam. Kasihan ibu. Mengapa beliau yang harus menanggung beban ini? Tuhan tidak adil ! Mengapa harus ibu yang menikah dengan ayah? Bernafas saja sulit, apalagi masuk umah sakit ?! kalau saja ayahku gak pernah kenal dengan yang namanya judi, mungkin kehidupan kami gak seperti ini.
“Ibu maaf ya. Topan gak bisa bawa ibu keklinik. Tadi merka tidak mau menerima kita kalau Topan belum ngasih uangnya dimuka.” Ucapku pad ibu. Ibu hanya tersenyum sambil memegangi dadanyayang sepertinya sakit. Aku membuka bungkusan makanan tadi danku suapkan pada ibu. Setelah tersisa separuh, aku kembali mengingatnya untuk sarapan besok. Aku menidurkan ibuku dan menuju teras untuk tidur juga.
Sinar mentari pagi menggambarkan suasana alam yang damai. Burung – burung bernyanyi rang, tapi tidak untukku! Aku masih bingung darimana aku bias membawa ibu berobat. Aku menutup kedua tanganku dan menunduk.
“Pan, udah kaya lo? Kok gak ngamen? Nanti rezeki lo dipatok ayam tuh.” ujar Guntur , temanku yang beda 2 tahun.
“Kaya dari laut! Gue lagi bingung Tur.”
“Bingung kenapa?”
“Nyokap gue sakit parah. Kemarin gue bawa keklinik tapi merka gak mau nerima. Biasa, factor biaya.”
“Emang berapa ?”
“Sekitar dua jutaan, soalnya nyokap gue dirawat inap. Darimana gue dapat uang segitu coba? Ngamen aja paling tujuh puluh lima ribu. Separuhnya juga gue kasih bos.”
“Ikut gue aja kalo gitu.”
“Ngapain?”
“kerja kaya gue. Satu hari aja gue bias dapat minimal lima ratus ribu. Lumayang 4 hari lo bisa dapet dua juta.” Ajakan Guntur membuat alisku terangkat bigung.
“Emang lo kerja apaan? Setau gue lo Cuma bolak balik dibus doang?” tanyaku.
“Ayo ikut gue!” Guntur menarik tanganku ke kerumunan banyak orang yang antre untuk naik bus. Aku ikut dengan pasrah.
Padat, peat, dan sesat dalam bus ini. Kalau ngamen gak mungkin bisa dalam situasi kaya gini. Aku melihat Guntur yang melangkah dengan cepat dan lincah. Ia mengambil dompet semua penumpang. Aku hanya diam dan terpaku. Ku perhatikan cara kerja Guntur. Aku tersenyum sinis sampainya Guntur menarikku keluar bus.
“Udah liat kerja gue?” tanya Guntur sambil meghitung pendapatannya.
“Ya, tapi itu kan dosa?” ucapku.
“Hari gini lo masih mikirin dosa? Tuhan aja gak peduli sama lo! Emang Tuhan ngasih lo duit buat bayar nyokap o berobat? Enggak kan? Nah itu ada bis! Copet yang banyak buat berobat nyokap lo.”
Aku menaikki bus yang lumayan penuh. Aku hanya terdiam melihat semua sasaran pertamaku. Dan dengan cepat kulahap semua mangsaku. Aku turun dan kuhitung pendapatanku hari ini. Tanpa kusadari, tadi Arif melihat kelakuanku. Dia sangat marah.
“Oh jadi gini kelakuan lo? Pantes aja lo gak bisa bikin nyokap lo sembuh!” bentak Arif.
“Ngapain lo disini? ” tanyaku.
“Tadinya gue mau ngabarin kondisi nyokap lo yang makin parah. Eh tapi percuma aja. Lo aja udah niat mau ngasih uang haram itu buat berobat!”
“Peduli Setan..! Eh Tuhan tuh gak pernah adil sama gue! Dia ngirim sosok ayah yang sama sekali gak ada artinya buat gue. Yang cuma jadi sampah dalam keharmonisan keluarga gue. Dulu gue berada, ayah gue bik banget sama kita. Sejak ibu sering muntah darah, ayah kabur gitu aja bawa semua uang. Ayah gue super bejat !”
“Plak…” Arif menamparku keras. Aku terdiam. Amarah dan kesedihan menyatu. Selama 14 tahun aku belum pernah ditampar. Baru kali ini, bahkan yang menamparku adalah anak yang lebih muda 1 tahun dariku.
“Lo bilang ayah lo bejat? Yaudah ngapain lo ikut - ikutan? Cukup ayah lo aja! Harusnya lo sadar. Lo cowok, tulang punggung keluarga. Lo bimbing dan lindungi nyokap lo, bukan jadi rusak. Ngerti lo ?”
Tak kuasa air mataku mengalir. Arif benar. Tak seharusnya aku mengikuti jejak Guntur. Aku sungguh menyesal sekali.
“Tapi gimana nyokap gue?”
“Lo tenang aja, nyokap lo udah dibawa sama tetangga. Mereka lagi ngumpulin dana sumbangan buat biaya rumah sakit. Kebetulan ayah gue dapat honor tambahan dari majikannya. Siapa tau bisa bantu.” ujar Arif tersenyum.
“Untug ayah lo baik. Makasih banget ya.”
“Udah lupain. Lo pulangin dompet yang tadi lo copet, terus ikut gue kerumah sakit.”
Aku mengikuti Arif. Aku percaya sama dia karena dia lebih baik daripada Guntur. Aku sadar Tuhan yang memberikan takdir yang nasibnya kita tentukan sendiri. Serpihan sayap Topan yang patah mulai terikat kembali sejak ayahnya Arif mengizinkan Topan memanggilnya “Ayah”. Ini baru rasanya cinta. Bukan hanya kepada ibunya, tapi juga untuk sahabatnya yang kini dianggap sebagai adiknya. Ketika hidupku jatuh dan tidak ada sesuatu yang dapat membawaku keluar dari masalahku, aku akan selalu ingat bahwa masih ada keluarga dan teman yang begitu banyak memberiku cinta.
Komentar
Posting Komentar