Langsung ke konten utama

Letter from Baby (part 2)

3 bulan lalu...
Malam itu dipesta ulangtahun Disa, Yoga memberikan kado yang tak diduga oleh Disa. Suasana yang mendukung membuat mereka akhirnya melakukan perbuatan yang sangat dibenci Tuhan.
"ini aku lakukan supaya orangtuaku menerimamu" katanya pada Disa
"maksudmu ?"
"kelak nanti kau mengandung anak kita aku akan bertanggung jawab. Dan nikahi kamu. Selamanya kita bersama Disa"
‎"ha ? itu cara terbejat yang aku tau. Kenapa kita tak bicarakan dulu sebelum semuanya kita lakukan ?" Disa menamparnya. Yoga kemudian menjelaskan maksud itu pada Disa namun Disa lalu pergi dan menangis. Yoga tak pernah tau bagaimana rasanya ketika kesucian perempuan dirampas begitu saja hanya demi mempertahankan sebuah cinta. Kini sepertinya Yoga menyesal. Dia tidak akan mungkin bisa mengembalikan itu semua seperti sedia kala.
Yoga tau mamanya tak suka dengan Disa yang katanya matre. Apapun belanjaannya pasti Yoga yang bayar. Tapi Yoga sayang  pada Disa. mamanya melarang Yoga memanjakan Disa tapi tetap saja cintanya menang
"Disa itu cuma mau uangmu saja Yoga"
Yoga bingung harus bagaimana. Dia tak sengaja melakukan perbuatan dosa itu. Tapi Yoga menyayangi Disa, dia cuma ingin bersama tapi caranya salah.
‎"ma, kenapa mama gak suka sama Disa ? Dia itu gadis baik-baik ma"
"mama cuma gak suka kamu keluarkan uangmu begitu banyak padanya. Kamu itu kaya, tampan. Siapapun bisa kamu dapat. Tapi pilihanmu malah kepada gadis kampung itu"
‎"tapi gak seperti ini Yoga. Kamu lakukan ini bukan karena kamu merasa berhutang budi atas darah yang mengalir ditubuh kamu kan ?" Yoga terdiam. Memang itu salah satu alasan mengapa ia tak berpaling dari Disa. Dia merasa hutang budi atas pertolongan Disa.
SMA yang ditempati Yoga tawuran dengan SMA yang ditempati Disa. Botol beling yang dilemparkan temannya melesat jauh ke sarang lawan. Kalau saja saat itu Yoga tak menghalangi lemparan itu mungkin botol itu mengenai tubuh Disa yang kebetulan melewati arena itu. Botol itu sukses mengenai kepala Yoga dan membuat dia kehilangan banyak darah. Rumah sakit, itulah uang mempertemukan mereka. Dokter mengatakan Yoga memerlukan donor darah. mama yoga menganggap ini semua salah Disa. kalau saja Yoga tak selamatkan nyawanya mungkin anaknya takkan seperti ini. Hutang nyawa harus dibayar nyawa. kini saatnya bagi Disa untuk membalas budi dengan cara mendonorkan sebagian darahnya untuk Yoga. Darah Disa pun masih mengalir sampai saat ini. Bagi Yoga bila Disa tak selamatkan dirinya saat itu dirinya akan mati. Mulai saat itu pula Yoga berjanji akan selalu menjaga Disa.
"iya, Yoga juga merasa hutang budi ma. Itu sebabnya aku gak mau ninggalin dia" lanjut Yoga. Dia berjanji pada dirinya untuk bersama setelah apa yang dilakukan.
‎"gak ada lagi hutang budi Yoga ! Kamu selamatkan dia dan dia pun selamatkan nyawa kamu. Mama rasa itu sudah pantas. Satu sama Yoga"
‎"ya tapi ma kalau saja saat itu Disa gak donorkan darahnya untuk aku mungkin hari itu adalah hari terakhir mama melihat aku. Tolong ma, aku sayang sama dia"
‎"mama tetap gak suka kamu bersama dia. Dia itu bukan level kamu. Kamu pilih, putuskan dia atau mama tak lagi mengenalmu"
"jangan paksa aku menjauhimu ma, dan jangan juga memintaku melupakan dia. Aku janji ma, suatu hari nanti mama pasti akan tau seperti apa wanita yang aku pilih"
"lakukan saja apa yang kamu mau. Mama tak peduli sekalipun kamu menikah siri dengannya mama gak akan mengingatmu"
Yoga beranjak menghindari percakapan panas itu. Dia tak pernah meminta dilahirkan dari rahim ibu yang sombong sepertinya. Dia pun bergegas menuju rumah Disa. Dia harap pikirannya tenang disana.
Rumah mungil itu dihuni oleh keluarga yang sederhana. Dia disambut sangat oleh keluarga Disa. Yoga ingin sekali kalau suatu hari nanti Disa juga bisa merasakan sambutan hangat itu dari mamanya. Dan sepertinya kedatangan Yoga bertepatan dengan adanya bencana yang ditimpa tetangganya, teman baik Disa  ketika waktu kecil.
"Riska diperkosa sama pacarnya" begitu kata mama Disa. Memang keluarga ini selalu saja ada bahan obrolan untuk dibicarakan. Ibunya bilang selama ini Riska selalu dibelikan perhiasan dan belanjaan mahal olehnya. Awalmya dia tak curiga atas apa yang dilakukan pacarnya itu. namun lama-lama kekerasan fisik sering dilayangkan dari tangan pacarnya. "lo gak inget udah dibelanjain yang mahal?" selalu begitu ucapannya. Sampai akhirnya Riska dipaksa melakukan hal keji yang paling dibenci Tuhan. Perlawanan tubuh Risaka tak mamp[u mengalahkan niat jahat pacarnya. Dan sekarang Riska ditinggal begitu saja.
‎"terus gimana keadaan Riska bu ?" tanya Disa
‎"sekarang dia dititipkan ditempat tantenya agar dia bisa nenangin dirinya. Jiwanya agak terganggu" kata ibu Disa
‎"bagaimana pun harta itu gak menjamin harga diri seseorang. Kamu Disa, sebagai wanita harus pandai menjaga kesucian kamu. Wanita terhormat itu yang bisa menjaga kehormatan dirinya. Orang yang memandangmu pun juga akan merasa kamu itu gadis yang baik dimata mereka” ucap ayah Disa.
‎"ayahmu benar. Dan kamu Yoga sebagai pacar yang baik harus bisa menjaga wanitamu. Kelak kalian menikah juga dengan cara yang direstui Tuhan" kini ucap ibu Disa. Yang dinasihati salah tingkah. Mata Disa memerah seperti Manahan tangis. Ini saatnya mereka bicara berdua. Yoga memnta izin untuk membawa Disa keluar. Mereka pamit untuk membicarakan suatu rahasia berdosa yang sangat penting untuk meerka. Untuk memperbaiki hubungan mereka menjadi hubungan yang wajar, yang direstui orangtua dan Tuhan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...