Tahukah kamu bahwa banyak manusia yang menginginkan pasangannya sempurna. Meskipun didunia ini tak ada makhluk yang sempurna namun tetap saja para remaja yang begitu mengagungkan cinta itu mau tak mau memaksakan kehendakaknya. Cakep, kaya, keren, gaul, itulah kriteria idaman pasangannya. Tapi adakah yang seperti itu ?dan inilah kisah dimana cinta dipermainkan.
PERMAINAN CINTA TIAN
Ini hari pertamaku masuk sekolah. Ya inilah hari dimana aku menjajaki kakiku ke SMA untuk yang pertama kalinya. Dengan barang-barang super ribet untuk persyaratan masa orientasi siswaku nanti, aku berangkat lebih awal karena tentu nya ini hari spesial buat aku dan teman teman ku. Inilah aku seorang remaja yang baru meninjak dewasa , ya orang orang bilang ababil, abg labil. Semoga saja ini adalah awal hidupku yang menyenangkan.
Oh iya kenalkan, namaku Peggy. Yang sekarang sedang super malu dilihat orang banyak karena pakaian dan aksesoris yang kini kukenakan. Jelas saja, mos kali ini aku disuruh mengenakan pakaian orang gila ! Rambut yang baru saja ku creambath kemarin hari ini berubah acak-acak gak karuan macam orang gila. Tas yang baru ku beli belum bisa kugunakan karena karung beras lah penggantinya. Alamak, wajahku kusam sengaja tak ku make-up karena inilah yang dimau para senior. Mana jalan becek begini, bawaan ribet begini, bingung aku mau naik apa. Dan dengan penuh kesabaran akupun berjalan perlahan menunggu angkutan umum yang searah kesekolah baruku. Dan ketika aku berjalan,
“Brumm bruumm,, criiiit...” sebuah mobil ngebut dengan kurang ajar menyipratkan air yang becek tadi ke seragamku. Wow ! Dengan rasa kesal ku lemparkan kerikil ke mobil itu.
“eh, kurang ajar ya lo ! Baju gue basah nih mau ke sekolah tau, kotor gila !” seruku kesal. Dan tak lama orang yang tadi di mobil keluar. Cowok berseragam SMP keluar dari mobil. Sepertinya dia mau di mos juga seperti aku. Wow, ganteng sih tapi,,,
“heh, apa lo ngelempar mobil gue ?”
“lo ngapain ngebut gitu ngendarain mobil ? Kena seragam gue gila ! Kalo gak bisa nyetir mobil ya gak usah !”
“lo kali jalan gak liat-liat”
“pandangan gue udah cukup jelas ya tuan. Mungkin harusnya lo yang periksa ke dokter mata. Apakah mata lo normal, atau cacat” Cowok itu cuma tersenyum sinis dan kembali masuk lagi ke dalam mobilnya. Sialan.
“moga aja gak ketemu lagi sama cowok gila itu” dan aku kembali meneruskan langkahku menaiki angkutan umum yang dituju.
Sepertinya hari ini bukan hari yang baik buatku. Memang ini adalah hari pertamaku disini tapi samasekali gak sesuai dengan harapanku. Aku bertemu teman baru di kelas satu, Sashi. Asyik anaknya, lucu. Dan ini yang menyebalkan, cowok yang tadi pagi membuatku kesal ternyata siswa baru sekolah ini juga. Tian namanya. Dan parahnya dia satu kelas juga. Apa coba maunya Tuhan ? Oops, bukan salah Tuhan kok. Hehehe, maaf ya Tuhan.
“Peggy, lihat deh cowok itu” ujar Sashi.
“yang mana ?” tanyaku
“itu loh. Tian, yang berdiri didepan pintu. Mau didandani kayak orang gila pun tetep aja, ganteng hehehe” aku syok mendengar ucapan Sashi.
“yang itu ? ih gak banget tau selera lo. Tuh orang yang ketemu gue tadi pagi. Nih yang bikin baju gue kotor persis jadi orang gila.”
“hah ? lo kenal dia ? kenalin dong. Moga aja dia duduknya deket gue” ku cubit pipinya yang sebenarnya gak tembem. Cuma gayanya itu loh ya ampun. Gak tau aja begitu nyebelinnya Tian itu.
“lo mau gue kenalin ?”
“iya mau banget. Sekarang yuk”
“ye nanti aja kalo udah di kelas. Liat dulu anaknya baik apa cuma pura-pura baik doang. Kali aja kan tampangnya suci gitu hatinya jahanam” Sashi terbahak mendengar ucapanku. Yah tampang begini mah playboy abis. Aku melanjutkan prosesi mos ku dengan lancar. Setelah tiga hari mos ku berjalan dengan hal-hal yang sangat menyebalkan, namun menyenangkan. Sashi yang gampang terpesona oleh pria tampan begitu cepat akrab dengan Tian dan teman-teman baru Tian. Apa karena cowok-cowoknya aja ya yang jago tebar pesona ? Dan yang tak terduga aku dinobatkan sebagai dresscode favorit untuk hari itu. Bekas cipratan genangan air tadilah yang menbuat aku benar-benar menjadi seperti orang gila beneran. Gara-gara Tian tadi. Dan Sashi dinobatkan sebagai siswa terbawel angkatan tahun ini. Aneh memang kedengarannya. Dan mau tau apa yang terjadi, Tian dinobatkan sebagai siswa terfavorit tahun ini. Fikar teman baru Tian sebagai siswa tersongong tahun ini. Dan Dito teman baru Tian juga menjadi siswa tercerdas di mos tahun ini.
“eh lo yang waktu itu gue cipratin air bukan sih ?” tanya Tian yang tiba-tiba menegurku. Disaat Sashi tidak ada disampingku, dia bersama Fikar.
“gue pikir lo lupa sama dosa lo. Iya kenapa ?”
“iya gak apa-apa. Nama lo Peggy ya ? temennya Sashi ?”
“iya bawel. Kenapa sih ?”
“gak, lo galak amat sih. Lo punya nomornya gak ? tadi gue tanya Sashi suruh minta lo aja. Nah makanya gue datang ke elo nanyain nomornya.”
“bener gak lo ?”
“iya bener lah. Lo Tanya aja anaknya” karena memang Sashi terpesona berat sama Tian langsung saja kuberikan nomor HP nya. Mungkin saja benar.
Dan benar saja ternyata Tian dan Sashi saling mengirimi pesan satu sama lain. Aku kini sering mendengar curhatan Sashi yang akhir-akhir ini bahagia. Ya mungkin saja karena pujaan hatinya yang baru-baru ini menghubunginya dan sepertinya memberinya peluang. Namun ada satu hal yang membuat kami bingung. Sepertinya Tian memberikan nomor handphone Sashi bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Fikar dan Dito. Ada apa ya ?
“Sas, Tian masih suka smsan sama lo ?” tanya ku suatu hari
“iya. Tapi gue bingung deh Gy, kok Fikar sama Dito tau nomor gue ya ?”
“enggak, gue Cuma kasih tau Tian doang. Mungkin Tian kali kan mereka temenan. Ya siapa tau kan ?” Sashi hanya mengangguk mendengar opiniku. Ya semoga saja mereka gak berbuat hal yang aneh. Dari penjelasan Sashi yang panjang kali lebar kali tinggi itu katanya Fikar dan Dito sering mengirimi dia pesan bahkan menelponnya. Kalau dari pesan-pesan yang dikirimnya beberapa hari lalu seperti sedang orang jatuh cinta. Wow, sekali dayung 2 3 pulau terlampaui. Hehehe. Cocok kan dengan pribahasa itu ? Jelas saja Sashi hanya ingin mendekati Tian tapi Fikar dan Dito pun ikut terbawa. Hebat, seperti yang selalu ku khawatirkan semoga saja ini bukan salah satu permainan cinta anak SMA.
Sepertinya satu minggu berjalan begitu cepat. Apalagi untuk waktu pendekatan. Aku memasang kedua telingaku untuk mendengar kabar baru dari Sashi.
“Peggy, lo mau tau apa yang terjadi tadi malam ? kabar super baik”
“apa ? kucing lo melahirkan lagi ? apa tas lo robek kena paku ? apa tadi pagi lo dikejar – kejar anjing ?”
“ye itu mah buruk semua. Ini kabar baik. Tadi malam gue ditembak Tian. Huaa senengnya hehehe”
“kok cepet banget ? Baru seminggu pendekatan kok langsung ?”
“gak tau kemarin sih dia bilangmnya mau nyoba dulu sama gue. Siapa tau cocok. Hahaha kalo gue sih cocok - cocok aja. Tapi ada kabar buruknya”
“apaan lagi ? hidup lo lengkap amat ? lo dapet tambahan uang jajan ? apa abis dapat rejeki nomplok dan saking banyaknya lo gak tau lagi harus diapain ? hahaha”
“yah bukan, lo mau tau apa ? Fikar sama Dito nembak gue juga.” Aku kaget bukan main. Apa-apaan ini ? Sashi menjatuhkan hatinya pada Tian meski dua remaja itu juga menyatakan cintanya. Semoga saja Tian memang benar-benar mencintai Sashi. Dan hari ini Tian sama sekali belum menegur Sashi seperti apa yang diharapkan Sashi. Aku curiga. Semoga jangan sampai dugaanku benar.
Satu hari berlalu. Mungkin ini adalah hari dimana Sashi membuang-buang air matanya. Tadi malam pukul 9 temat Tian resmi memutuskan hubungannya denga Sashi. Aku dan Sashi pun mulai menyadari ketidakberesan ini. Kami mengambil langkah seribu menuju kantin. Benar saja Tian, Fikar dan Dito berkerubung disana. Beberapa lembar uang ratus ribuan diterima Tian dengan senang hati.
“kurang ajar gue jadi bahan taruhan”
“kerjain aja orang kayak gini”
“caranya ?” Aku membisikkan rencana jahatku pada Sashi.
Doakan rencanaku berhasil.
Pulang sekolah, Tian mengomel kedua ban mobilnya hilang. Kaca spion motor Fikar pecah bersama dengan motornya yang terbaret-baret, kacamata Dito berada diatas genteng. Wow, kerjaan siapa lagi kalau bukan kami, Peggy dan Sashi. Biar mereka tahu akibatnya. Hahaha, masih banyak lagi yang akan kami lakukan untuk tiro abal-abal itu.
“biar rasa mereka ya Gy” ucap Sashi padaku saat pulang sekolah bersama. Dan kini aku menikmati di sebuah kafe tak jauh dari sekolahku.
“iya makanya kamu jangan terpengaruh oleh tampang aja. Inget cinta tub dari dalam hati. Buka dari wajahnya”
“iya gue janji gak akan kepeengaruh sama tampang orang ganteng lagi” Sashi mengucapkan janjinya padaku. Haha moga saja benar. Aku hanya mengangguk sambil tertawa. Semoga saja benar.
“udah yuk pulang. Gue bayar dulu ya. Gue yang traktir” kata Sashi. Dan ketika dia membalikan badannya. Seorang remaja tampan tak sengaja menabrak tubuh Sashi. Ganteng, keren, dan sepertinya tajir. Wow, idaman wanita banget.
“Peggy, ganteng bangeeeet tuh cowok” ucap Sashi dengan tampang mupeng alias muka pengen. Matanya berbinar seperti mau copot.
Alamak, jangan lagi Sashi ! Cukup sekali aja lo sakit hati. Dan cukup sekali saja mengikuti permainan cinta dari Tian.
tamat
Komentar
Posting Komentar