Langsung ke konten utama

Postingan

Surat untuk para petinggi , Dari yang peduli.

To: Dahlan Iskan, Menteri BUMN Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia Ignasius Jonan, Direktur Utama PT KAI Ifdhal Kasim, Ketua Komnas HAM Indonesia Syarief Hasan, Menteri Koperasi dan UKM E.E. Mangindaan, Menteri Perhubungan Malam 29 Desember 2012, seorang nenek menangis karena tidak tahu lagi bagaimana nasib kuliah anaknya ke depan disebabkan pekerjaannya harus selesai di malam tersebut. Malam tanggal 29 Desember 2012, puluhan orang terancam kembali masuk ke dunia kriminal setelah sebelumnya mereka bekerja sebagai pedagang. Di malam 29 Desember itu juga, ratusan manusia panik karena mulai besoknya mereka tidak lagi bekerja sebagaimana hari-hari biasanya. Semua ini terjadi karena penggusuran sepihak yang dilakukan oleh PT KAI. PT KAI menggusur kios-kios pedagang di sekitar peron dengan dalih kenyamanan penumpang. Penggusuran tersebut, sayangnya, dilakukan secara sepihak tanpa negosiasi terlebih dahulu dengan para pedagang. Banyak diantara para peda...

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

renungan (:

Ini sebenarnya bukan masalah atau kebingungan yang harus diperpanjang. bukan juga berkah atau keberuntungan yang harus dibanggakan. harusnya kita bisa  senang menjadi diri ini,, yang kelihatannya tak ada sedikit pun amarah yang meledakkan emosi sehingga terlihatlah dua tanduk merah disepanjang kepala.. Well,, terlihatkah aku begitu ceria dengan senyum yang sebenanrnya tak ada arti apapun ? bukan aku menutupi sebongkah kisah yang memang tak seharusnya terpublish.. hanya saja terlalu rumit, ya, rumit untuk diuraikan kedalam kata kata.. aku hanya lebih beruntung dibanding mereka yang tak bisa mengatasi bebannya , tapi mereka lebih memilih untuk menutupi masalahnya dengan tawa yang keras dan melengking,, atau melarikan diri ke dunia yang penuh kesibukan.. apakah bebanmu akan hilang ? Tidak ! Teman, yang biasa selalu hadir tanpa perlu ada absensi di setiap harinya.. merekalah fasilitas yang baik untuk mengakses suatu jalan keluar dari apapun masalahmu,, mungki...

when i feel...

Kadang aku ingin seperti anak kecil, Sosok polos yang tak pernah mengenal apa itu kecewa, sedih, stress, tanggung jawab dab segala hal. Mengenal dunia yang keras dimana kita dipaksa untuk mengerti akan sebuah tanggung jawab, bersabar pabila kemauan kita tak terpenuhi, menunggu jika doa belum terkabul. Tuhan memberikan apa yang kita mau dalam bentuk bahan mentah, yang sewajibnya kita proses, kita olah dan kemudian akan kita rasakan hasil dari semuanya. Tapi waktu tak bisa diputar ke datu detik sebelumnya. Sudah terlanjur dan telah terlewat, tapi belum terlambat. Penyesalan itu memang pada akhirnya datang bila tak sesuai dengan apa yang direncanakan. Mau bagaimana lagi , tugas kita sekarang adalah menjadi siapa kita seharusnya, mengoreksi apa yang salah sehingga hidup kita adalah hidup yang akhirnya kita mau.

Tamagotchi (part 5)

              Jujur saja aku tak mengerti motif pembunuhan yang tengah dialami Ochi, begitupun dengan Tama. Seolah Ochi lah yang kesannya bunuh diri. Tama, yang kini menggenggam erat tamagotchi kesayangannya duduk dengan pikiran dan hati yang berkecamuk. Tamagotchi hijau, yang baru saja ia beli dengan Ochi, yang pasangannya harusnya ada pada Ochi, namun dia lempar hanya untuk membela diri. Tamagotchi kesayangannya sekuat tenaga ia jadikan senjata perang di detik-detik hidupnya.             "Udah lo gak usah kecewa, senggaknya Tamagotchi lo udah nolongin Ochi buat jadi senjatanya meski gak banyak ngebantu" kataku asal.             "kata siapa gak akan banyak ngebantu, lo liat aja, tamagotchi inilah yang pada akhirnya ngebawa dia kepada kehidupan yang tenang. Dan aka dia liat dari surga bahwa gak bisa lagi Dik...

Tamagotchi (part 4)

         Aku, bersama dengan rasa bingung bercampur heran dengan semua yang terjadi. Satu jam yang lalu aku dan Tama nenyaksikan video yang terekam dalam handycamp berdurasi tiga puluh menit yang kemarin terletak di selipan saputangan disudut meja itu.          Dalam video itu, terekam sosok Ochi yang sedang mempersiapkan dirinya untuk merekam sesuatu. Dengan busana yang sama saat kematiannya kemarin terekam dia membawa kue ulang tahun dengan berbagai lilin dan hiasan lucu di sekitarnya. Duduklah ia pada suatu kursi dengan dekorasi yang sangat cantik di belakangnya.         "Hai Tama, makasih banget ya kamu udah kasih aku hadiah ini. Mungkin saat kamu terima kado ini aku udah gak lagi disini, aku mau lanjutin study ke luar negeri dan mungkin aku akan sibuk seminggu ini. Aku  minta maaf banget karena sebelumnya aku udah jahat banget sama kamu. Dan sekarang sa...

Tamagotchi (part 3)

         "Chi, sekarang lo udah bener-bener gak ada buat gue. Tapi makasih sebelumnya lo udah berani milih gue ketimbang Dika. Makasih kalau pada akhirnya gue lah yang jadi cinta terakhir lo" ucap Tama di pusara Ochi, gadis yang sangat dicintainya. Dia, yang pernah menjadi pendamping hidupnya kini pergi untuk waktu yang sangat panjang dan tak akan lagi memintanya untuk kembali. Tama meletakan tamagotchi dari sakunya di papan nisan, air matanya tak diizinkan keluar dari matanya.          "Tam kalo mau nangis gak apa-apa kali, belom ada peraturan cowok dilarang nagis kok" ucapku, yang dikomentari hanya tersenyum meski dimatanya tertahan sesuatu.          "Dulu Ochi benci banget kalo gue mainin tamagotchi kalo kita lagi jalan-jalan bareng. Sekarang gue mau tinggalin ini buat dia, gue rela ngelepas mainan gak berguna ini buat dia."      ...