Langsung ke konten utama

Tamagotchi (part 3)

         "Chi, sekarang lo udah bener-bener gak ada buat gue. Tapi makasih sebelumnya lo udah berani milih gue ketimbang Dika. Makasih kalau pada akhirnya gue lah yang jadi cinta terakhir lo" ucap Tama di pusara Ochi, gadis yang sangat dicintainya. Dia, yang pernah menjadi pendamping hidupnya kini pergi untuk waktu yang sangat panjang dan tak akan lagi memintanya untuk kembali. Tama meletakan tamagotchi dari sakunya di papan nisan, air matanya tak diizinkan keluar dari matanya.
         "Tam kalo mau nangis gak apa-apa kali, belom ada peraturan cowok dilarang nagis kok" ucapku, yang dikomentari hanya tersenyum meski dimatanya tertahan sesuatu.
         "Dulu Ochi benci banget kalo gue mainin tamagotchi kalo kita lagi jalan-jalan bareng. Sekarang gue mau tinggalin ini buat dia, gue rela ngelepas mainan gak berguna ini buat dia."
         "Tam, semua ini udah ditakdirin sama yang diatas, gak usah lo sesalin."
         "gue bener-bener penasaran ada apa dibalik semua ini. Eh masih simpen handycamp yang kemaren gak ? Kalo gak salah kameranya ditinggalin di meja dalam keadaan masih on kan ?"
          "masih, aman di tempat gue. Kayaknya juga sih kejadian beberapa menit sebelum Ochi meninggal juga terekam disitu soalnya pas banget anglenya mengarah ke dia."
          "yaudah kita ambil dan kita liat apa yang terjadi sebenernya. Gue yakin, Ochi itu dibunuh !"
Langkah kaki meninggalkan pemakaman itu. Taburan bunga yang menjadi hadiah terakhir beterbangan diatas pusaranya  
         

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...