Langsung ke konten utama

Tamagotchi (part 2)

            Entah kenapa Tama begitu mempercayaiku menyimpan alat ini. Sekarang piaraan di game ini sudah besar. Dua tahun sudah aku dan Tama berbagi cerita dari a sampai z. Dua tahun  juga aku cukup mengenal Tama itu seperti apa. Kupikir dia cukup penyayang, sangat jelas dari kisah cintanya yang dia ceritakan beberapa wktu lalu kepadaku. Ochi kekasihnya yang ketauan menyelingkuhinya dengan teman sepermainannya Dika, Tama sama sekali gak marah.
        "terus gimana hubungan lo sama Ochi, Tam ? "
        "Ochi minta maaf sama gue pas tadi gue anter dia beli kamera, dia cerita kemaren katanya dipaksa ciuman sama Dika tapi gak mau dia"
        "loh terus Ochi sama Dika udahan gitu masud lo ? Lo balikan dong siang tadi" Yang ditanya mengangguk, kepalanya menengadah ke atas seolah punya pikiran yang sangat berat. Matanya dipejamkan erat seolah dia ingin tegar menghadapi semuanya.
        "Tam, lo gak apa-apa kan ? Ada apa sih ? Cerita aja sama gue"
        "Ochi, dia emang lebih milih gue. Tapi urusan dia sama Dimas jadi panjang"
         Joshica atau yang biasa dipanggil Ochi lebih memilih Tama dibanding Dika. Dika terlalu meminta macam-macam dari Ochi. Kejadiannya berawal saat suatu malam saat Ochi berada di rumah Dika karena dia diundang makan malam olehnya. Hal yang tak diinginkan terjadi, Ochi diminta paksa menyerahkan seluruh raganya untuk Dika saat itu.
       "terus Ochi mau ? Kok yang namanya Dika jahat sih"
       "cuma cewek yang IQ nya rendah aja yang mau kali Sa, itu sebabnya dia balik ke gue."
       "tapi kok lo kayaknya gimana gitu, harusnya seneng dong"
       "tapi gue takut Ochi kenapa-napa, soalnya dia diancam sama Dika. Perasaan gue gak enak daritadi "
       "mending kita ke apartemennya deh sekarang."
          Langkah cemas pun mengiringi perjalanan ini. Meski aku belum pernah bertemu dengan yang namanya Ochi, aku ikut cemas mendengar cerita Tama. Sebenarnya Ochi sayang sama Tama, Dika hanyalah pelarian Ochi karena selama pacaran Tama hanya sibuk mengurusi tamagocthinya. Sejam kemudian motor kamipun tiba. Pintu yang sedikit terbuka membuat Tama penasaran untuk masuk dan melihat apa yang terjadi. Tapi, mata kami dibuat panas oleh pemandangan yang terlihat didepan kami. Ochi tergeletak dengan mulut penuh busa dan tangan yang tersayat tepat di nadinya. Ketegaran Tama pun goyah, tangisnya pecah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mungkinkah Ochi bunuh diri ? Aku melihat ke arah lain dan kutajamkan pandanganku ke arah kamera yang ada diatas meja. Lampu powernya berwarna hijau. Aku menyentuh pundak Tama dengan hati-hati dan menyerahkan kamera yang masih dalam keadaan On kepadanya. Terekamkah kejadian beberapa waktu lalu ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...