Entah kenapa Tama begitu mempercayaiku menyimpan alat ini. Sekarang piaraan di game ini sudah besar. Dua tahun sudah aku dan Tama berbagi cerita dari a sampai z. Dua tahun juga aku cukup mengenal Tama itu seperti apa. Kupikir dia cukup penyayang, sangat jelas dari kisah cintanya yang dia ceritakan beberapa wktu lalu kepadaku. Ochi kekasihnya yang ketauan menyelingkuhinya dengan teman sepermainannya Dika, Tama sama sekali gak marah.
"terus gimana hubungan lo sama Ochi, Tam ? "
"Ochi minta maaf sama gue pas tadi gue anter dia beli kamera, dia cerita kemaren katanya dipaksa ciuman sama Dika tapi gak mau dia"
"loh terus Ochi sama Dika udahan gitu masud lo ? Lo balikan dong siang tadi" Yang ditanya mengangguk, kepalanya menengadah ke atas seolah punya pikiran yang sangat berat. Matanya dipejamkan erat seolah dia ingin tegar menghadapi semuanya.
"Tam, lo gak apa-apa kan ? Ada apa sih ? Cerita aja sama gue"
"Ochi, dia emang lebih milih gue. Tapi urusan dia sama Dimas jadi panjang"
Joshica atau yang biasa dipanggil Ochi lebih memilih Tama dibanding Dika. Dika terlalu meminta macam-macam dari Ochi. Kejadiannya berawal saat suatu malam saat Ochi berada di rumah Dika karena dia diundang makan malam olehnya. Hal yang tak diinginkan terjadi, Ochi diminta paksa menyerahkan seluruh raganya untuk Dika saat itu.
"terus Ochi mau ? Kok yang namanya Dika jahat sih"
"cuma cewek yang IQ nya rendah aja yang mau kali Sa, itu sebabnya dia balik ke gue."
"tapi kok lo kayaknya gimana gitu, harusnya seneng dong"
"tapi gue takut Ochi kenapa-napa, soalnya dia diancam sama Dika. Perasaan gue gak enak daritadi "
"mending kita ke apartemennya deh sekarang."
Langkah cemas pun mengiringi perjalanan ini. Meski aku belum pernah bertemu dengan yang namanya Ochi, aku ikut cemas mendengar cerita Tama. Sebenarnya Ochi sayang sama Tama, Dika hanyalah pelarian Ochi karena selama pacaran Tama hanya sibuk mengurusi tamagocthinya. Sejam kemudian motor kamipun tiba. Pintu yang sedikit terbuka membuat Tama penasaran untuk masuk dan melihat apa yang terjadi. Tapi, mata kami dibuat panas oleh pemandangan yang terlihat didepan kami. Ochi tergeletak dengan mulut penuh busa dan tangan yang tersayat tepat di nadinya. Ketegaran Tama pun goyah, tangisnya pecah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Mungkinkah Ochi bunuh diri ? Aku melihat ke arah lain dan kutajamkan pandanganku ke arah kamera yang ada diatas meja. Lampu powernya berwarna hijau. Aku menyentuh pundak Tama dengan hati-hati dan menyerahkan kamera yang masih dalam keadaan On kepadanya. Terekamkah kejadian beberapa waktu lalu ?
Komentar
Posting Komentar