Langsung ke konten utama

Tamagotchi (part 4)

         Aku, bersama dengan rasa bingung bercampur heran dengan semua yang terjadi. Satu jam yang lalu aku dan Tama nenyaksikan video yang terekam dalam handycamp berdurasi tiga puluh menit yang kemarin terletak di selipan saputangan disudut meja itu.

         Dalam video itu, terekam sosok Ochi yang sedang mempersiapkan dirinya untuk merekam sesuatu.
Dengan busana yang sama saat kematiannya kemarin terekam dia membawa kue ulang tahun dengan berbagai lilin dan hiasan lucu di sekitarnya. Duduklah ia pada suatu kursi dengan dekorasi yang sangat cantik di belakangnya.

        "Hai Tama, makasih banget ya kamu udah kasih aku hadiah ini. Mungkin saat kamu terima kado ini aku udah gak lagi disini, aku mau lanjutin study ke luar negeri dan mungkin aku akan sibuk seminggu ini. Aku  minta maaf banget karena sebelumnya aku udah jahat banget sama kamu. Dan sekarang saatnya aku yang akan memberikan kamu hadiah kejutan yang spesial buat kamu..." Dengan senyumman manis yang terekam di layar handycamp terlihat dia menyalakan lilin dan menyanyikan lagu Happy Birthday  yang tak asing ditelinga orang. Lima lilin ditiupnya dari bibirnya yang mungil.

          "Selamat hari ulang tahun pacaran kita yang ke lima ya sayang. Saatnya potong kue, eh tapi pisaunya lupa. Sebentar yaa" katanya pada kamera. Dia bergegas menuju dapur untuk mengambil pisaunya. Selang beberapa menit terdengar suara benda jatuh dan 'Aaa...' suara Ochi menggema di seluruh ruangan apartemennya. Dua orang terlihat tengah membungkam dan dan satu orang lagi membekap Ochi dari sudut kamera yang sepertinya mereka tak melihatnya. Ochi tak bisa berkutik, tiga lawan satu. Entah apa yang telah mereka perbuat tersamar dan tak terlihat lagi dari kamera yang masih dalam keadaan menyala. Pisau yang ada di genggamannya kini pindah ke oranng yang ada di hadapannya. Dengan rapih ia melilitkan tissue ke gagang pisau dan mengoreskannya ke nadi Ochi. Darah terus mengalir dan perlahan tubuh Ochi melemah, nafasnya perlahan terhenti. Sekitarnya sudah tiada lagi manusia-manusia bejat yang tadi menghadangnya.Semua ikatan yang terlilit ditubuhnya dilepaskan sengaja, begitu rapi.Perlahan Ochi bergerak menuju kursi dimana tempat semula ia merekam dirinya. Sekuat tenaga ia melemparkan sabuah benda tepat mengenai kepalanya, kemudian masuk ke saku bajunya. Ya, tamagotchi hijau. Kata terakhir yang terekam dalam video itu adalah,,,

          "Dika, kamu jahat, kamu tega bunuh aku. Lihat aku pasti akan bertahan untuk Tama, bukan untuk kamu ! Lihat saja suatu saat, entah aku atau pun Tama yang akan membalas kamu !"

           Tanpa menoleh lagi, entah orang yang dimaksud sadar atau tidak, perlahan Ochi menutup mata dan menghembuskan nafas terakhirnya bersama darah yang mengucur deras dan perlahan telah terkuras habis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...