Persahabatan yang posesif bagaikan pasir dalam genggaman yang sama-sama
terurai habis bila kita terlalu erat dan posesif menggenggamnya. Bila kita tak
ingin mereka pergi, maka percayalah pada sahabatmu bila kau yakin dialah yang
terbaik. Dan dunia ini akan terasa indah bila kit selalu mengucapkan “Aku sayang kamu sahabat”
Boyfriend or
Friendships ?
Ini kisah
tentang aku dimana persahabatan tengah melingkari hidupku. Hampir 10 tahun aku
tak pernah bosan bertukar cerita dengan mereka. panggil aku Nayla, yang selalu
dijuluki si gadis polos. Semua terlihat transparan bagiku. Tak bisa berbohong
dan tak bisa juga dibohongi. Makanya mereka lebih baik jujur denganku daripada
berbohong. Mereka takutku marah, sebab aku termasuk orang yang sulit memaafkan
bila kesalahan itu benar-benar fatal.
“Nay, hari ini
mau ikut gak ?” tanya Vidya, sahabatku yang pintar mencuri hati para pria.
Bukan rayuan gombal yang menyulapnya, tapi sifat dan wajahnyalah yang ampuh
membuat lelaki didekatnya menyatakan cinta untuknya lebih cepat dari
seharusnya.
“kemana ? kamu
ikut Dez ?” tanyaku pada sahabatku yang lain, yang super cuek dan tomboy abis.
Tapi kemampuannya menggaet hati pria sederajat lho dengan Vidya, mungkin karena
sifatnya yang apa adanya menarik hati keturunan adam untuk bisa mengenal lebih
jauh tentang dirinya.
“aku gak ikut
Vidya, mau jalan sama Rama. Lah Vid, katanya mau jalan-jalan sama Zacky ?”
tanya Dezta pada Vidya.
“iya aku mau ajak Nayla. Soalnya
hari ini aku gak boleh keluar rumah.”
“kok ajak aku ?”
“ya kan kalau
ada kamu aku jadi dibolehin keluar rumah. Nanti aku izinnya kerumh kamu, nah
kan mamaku percaya kalau ada kamu. Ya ya ya ?
Gini nih
dukanya dipersahabatanku. Jadi alasan biar bisa dimanfaatkan sahabatnya sendiri
meskipun aku memang ingin jdi orang yang bermanfaat, tapi gak gini juga kali ?!
“yah kamu salah
alamat ngajak Nayla. Sama aja bunuh diri. Kan kamu tau Nayla mana pernah bisa bohong”
sanggah Dezta
“tau nih Vid ada-ada aja”
“udah diatur
beres itu. Pokoknya kamu tinggal ngangguk aja dan bilang “iya tante” plus kasih
senyuman termanis. Gk usah ngomong apapun. Gimana ? Ayolah” ide gila yang
lancar sekali. Aku Cuma mengangguk. Entah iya atau tidak, pokoknya mengangguk.
Biar dia diam dan gak berisik. Vidya bersorak dan memelukku sambil mengucapkan
terimakasih. Lalu dia mengatur jadwal dan apa saja yang harus kupersiapkan.
“makanya Nay jadi orang jangan
kelewat polos” tawa mengiringi kalimat Dezta.
“dasar. Eh Rama siapa lagi tuh ?
bukannya pacarmu Tommy ? ” tanyaku bingung
“yang kedua. Boleh dong. hahaha”
“Vidya aja tobat. Kamunya eror”
tawa kembali terdengar ketika aku selesai bicara. Dan dari luar mamaku
berteriak
“Nay jangan berisik, mama lagi
sakit gigi” dan kami diam sambil menahan tawa.
Yah ini lah
kami tiada hari tanpa cerita. Kapanpun dan dimanapun ada saja yang bisa membuat
kami tertawa seperti ini. Semoga saja pacar itu bukan penghalangnya.
Jam sudah
menunjukkan pukul 7.30 malam. Aku tengah berjalan menuju rumah Vidya. Pasti
disana dia sangat siap menyambutku dating. Jelas saja, aku sangat berjasa dalam
hal ini. Jika aku tak datang, bagaimana nasibnya ? Kini aku telah sampai dan
berkali-kali menghembuskan napas untuk menenangkan diri.
“ma,
aku pergi kerumah Nayla ya” izin Vidya pada mamanya
“benar
mau kerumahmu Nay ?” tanya mamanya padaku. Aku hanya mengangguk, tak berani
memandang dan mengatakan apapun. Biar Vidya yang mengatur semuanya.
“boleh
ya ma ? Kan kerumah Nayla”
“oke,
kalau kerumah Nayla mama izinkan. Tapi awas kalau nanti mama dating kesana dan
kamu tak ada, mama gak akan pernah lagi mengizinkan kamu keluar rumah” Itulah
ucapan mama Vidya yang membuatku menelan ludah. Glekk., mati aku. Itu keputusan
bersyarat. Dan Vidya dengan gampangnya berkata “iya” demi bias mencapai
kemauannya. Dia tak tau aku sangat kacau mendengar ancaman itu. Aku yakin dia
masih punya segudang ide gila dikepalanya.
“Vid,
gimana nih ?”
“udah
tenang aja. Yaudah aku pergi dulu ya. Nanti sms aja kalau ada hal-hal yang
membuat mati kita berdua. hahaha”
“lho
kok ? ku pikir aku bakal lihat pacarmu ?”
“udah
besok aja aku kasih tau. Nih lihat aja dulu fotonya” Vidya pun mema,erkan foto
pacarnya,Zacky di dompetnya. Dan setelah itu kami pun berpisah di pertigaan
jalan. Semoga saja gak ada apa-apa karena yang akan terjadi nanti itu adalah
misteri.
Hari
ini aku masih diberi kesempatan hidup. Kupikir ancaman mama Vidya itu bohong
tapi ternyata itu nyata. Aku telah berusaha menghubungunya tapi tak bisa. Aku
bingung harus bagaimana. Ditengah lamunanku handphoneku berdering. Nomor tak
dikenal. Dari siapa ya ?
“ya halo ?”
tanyaku
“sorry ini nomor
Nayla ?” tanya suara itu, laki-laki.
“iya ini siapa
ya ?”
“ini Rama.
Disitu ada Dezta gak ?”
“gak ada Ram,
kenapa ?”
“gini,
handphonenya ketinggalan di motorku dan aku mau mengembalikannya.”
“oh
gitu coba aja kamu kerumahnya. Nanti kamu telpon aku aja lagi kalau udah
sampai. Soalnya aku mau hubungi dia nantinya”
“oke
makasi ya” sambungan itu terputus. Moga saja gak terjadi apa-apa lagi.
Waktu
berjalan selama 30 menit setelah Rama menelponku. Jangan-jangan Rama belum
mengembalikan handphone Dezta karena sampai saat ini juga Rama belum memberi
kabar apapun. Dan aku berniat untuk datang kerumah Dezta hari itu juga. Namun
sesampai disana aku hanya dicuekin.
“Dezta,
tadi Rama telpon aku katanya mau balikin handphonmu yang ketinggalan. Udah
diambil ?”
“iya
udah” jawabnya padaku namun menyambung untuk Vidya
“gimana Vid jadinya aku bingung nih”
“yaudah
kita kesana aja”
“mau
kemana ?” tanyaku tapi tak diacuhkan
“besok
deh aku sms kamu Vid. Gak usah ajak siapa-siapa. Kita berdua aja ya Vid. Biar
rencana kita lancar” kalimat Dezta itu yang membuatku penasaran setengah mati.
Mungkin saja mereka sedang membuat rencana aneh yang tak perlu ku ketahui.
“Dez,
Vid aku pulang ya. Males ah gak dibutuhin.” Aku pun pergi dan mereka gak tau
sama sekali. Parah ! biarkan saja, asal kalau nantinya ada apa-apa aku gak mau
tahu. Dan akhirnya dengan segala kekecewan aku pergi meninggalkan mereka.
Mereka mungkin tidak tahu aku meninggalkan mereka. Biarlah sampai mereka sadar
aku sudah tidak ada disana bersama mereka.
Hooam,
aku terbangun lebih pagi dari alarm yang kuaktifkan. Aku masih kepikiran Vidya
dan Dezta. Kenapa sikapnya begitu ? Apa dia ketahuan selingkuh ? itukan
salahnya kenapa mereka berani main api. Ah itu bukan urusanku. Terserah mereka
apa maunya. Dan tak lama handphoneku bordering. Ah mungkin alarm. Tapi kok
berdering terus ? Lantas tanganku
tergerak untuk mengambil handphoneku. Layarnya tertulis “Virgo calling”
“halo ?” sapaku
“iya Nay, lho
kok lama amat angktnya ? ”
“oh gak apa-apa
kupikir alarmku yang bunyi. Kenapa Go ?”
“gak apa, aku
insomnia Nay. Masih kepikiran pacarku tadi. Dia putusin aku”
“kenapa kok bisa
?”
“gak
tahu, gak cocok mungkin. Lha kamu kok gak tidur ?”
“gak
bisa tidur aku Go. Ada masalah sama Vidya dan Dezta” ku ceritakan peristiwa
dari aku membantu Vidya membohongi mamanya sampai kejadian mereka mengabaikan
aku.
“oh
gitu, eh Nay hari ini ada acara gak ?”
“gak
ada Go kenapa ?”
“oke
kalau gak ada nanti jam 9 aku jemput kamu ya. Ada sesuatu yang mau aku
tunjukkin”
“hah ? mau kemana ?”
”
udah ikut aja. Aku mau ajak kamu ke kaffe dekat kampus. Pokoknya nanti aku
jemput kamu jam 9”
“yah
tapi…” sambungan terputus. Kebiasaan Virgo yang selalu membuat kejutan seperti
ini. Dan tak lama handphoneku berdering lagi. Aku langsung menekan tombol yang
biasa ku pakai bila menerima telepon tanpa melihat layarnya.
“hey
kok dimatiin sih kan aku belum selesai bicara. Ada apa sih Go ? Kenapa
mendadak gini ? Halo ? Halo ?” tak ada
jawaban. Dan ketika ku lihat layar handphone, alamak ! Ternyata tadi itu adalah
bunyi alarm yang kuaktifkan semalam. Huh bikin malu. Dan kini saatnya aku
menyambut hari baru sekaligus menyabit Virgo karena ajakannya.
Jam
menunjukan pukul 9 pagi. Dan aku melihat Virgo dengan motornya menjajaki halamn
rumahku. Tanpa banyak bertanya aku pun diajak naik kemotornya dan tak lama
motornya melesat cepat melawan arah angin. Kuketuk helmnya dan dia tertawa.
“ada
apa sih Go ? mendesak banget ?” tanyaku langsung ketika kami sampai ditempat
tujuan. Langsung saja ku pesan makanan karena aku belum sarapan.
“aku
curiga sama ceritamu, kemarin aku mendengar obrolannya Rama sama Tommy disini
dan sekarang mereka akan kesini lagi”
“kamu
kenal mereka ? kok bisa ketemu ? kan mereka itu pacar-pacarnya Dezta apa gak
berantem ?”
“iya
aku kenal. Malah mereka yang pertama kali bertanya siapa yang bernama Nayla,
Vidya dan Dezta. Justru mereka gak berantem. Aku curiga mereka sedang merencanakan
sesuatu buat persahabatan kalian.” Aku diam, tak menyangka kami sepopuler itu.
Hehehe.
Dan
benar tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu datang, Rama dan Tommy. Tapi
sepertinya ada satu orang lagi, Zacky.
“ya
ampun, itu kan Zacky pacar barunya Vidya. Aku lihat fotonya kemarin”
“udah
sabar dulu. Kita lihat aja dia mau ngapain” aku dan Virgo pun mencari posisi
yang aman untuk memata-matai mereka.
“oke
lalu apalagi? Dezta udah aku buat bingung buat milih jalan sama aku atau sama
Rama. Tinggal kamu Zack.”
“aku
sih udah baik-baikin Vidya. Nanti kalau dia udah nurut sama aku baru deh
uangnya aku habisin.”
“sekarang
apa ? aku agak keganggu sama temannya yang satu lagi, Nayla.” Rama menyahut.
Sialan aku dibawa-bawa, gerutuku. Virgo cuma nyengir.
“udah
gampanglah” sambung Tommy. Dan mereka membahas rencana iblis yang tak terdengar
oleh Nayla dn Virgo dari sana dan setelah itu pergi.
“ih
kurang ajar ya mereka maunya apa sih ? Kenal juga enggak ! keren juga enggak,
dompet juga ngepas aja banyak gaya ! liat tuh tadi segitu lama mereka disitu
yang dipesen cuma air mineral kemasan gelas ! gitu mau ngerusak persahabatan
kita.” Wajar saja kalau aku meledak-ledak seperti itu. Kulihat Virgo menatapku.
“kenapa
kamu Go ? ngeliatin aku gitu amat ? aku kesel tau !”
“kamu
yang kenapa ? marah-marah gitu gak akan ada hasilnya. Lihat dong” Virgo menunjukkan sebuah handycamp dari saku
jasnya. Dan ada video yang terekam didalamnya.
“ya
ampun, Virgo. Jadi daritadi obrolan mereka kamu rekam ?” tanyaku senang. Virgo
cuma mengangguk, tersenyum. Manis sekali, gumamku dalam hati.
“aku
lakuin ini buat kamu.” Itu kata yang dia ucapkan sebelum kami pulang dan
menunjukkan ini pada Dezta dan Vidya. Jantungku berdegup. Aku hanya tersenyum.
Esoknya
dikampus, saat kami istirahat. Seperti biasa aku, Vidya dan Dezta duduk
dikantin biasa. Kami sudah biasa saja karena aku dan Virgo sudah
menjelaskannya. Mereka minta maaf padaku. Karena mereka temannku, akupun
memaafkannya. Dan kami merencakan sesuatu untuk ketiga untuk mereka. Hehehe.
Tak lama Zacky pun datang
“Vidya
bisa bicara sebentar ?”
“ngomong
aja” kata Vidya
“jangan
disini aku gak enak. Aku mau pinjam,, uang ”
“oh
yaudah aku lagi gak ada uang”
“ih
gak bisa gitu kamu harus kasih aku atau kalo enggak, kita…”
“putus
aja, aku gak butuh kamu pengeretan” aku dan Dezta tertawa terbahak-bahak
mendengarnya. Begitupun Vidya.
“heh
gak ada urusan sama kalian ya !” protes Zacky
“bodo.
Pergi sana ganggu aja !” kataku smbil mengebrak meja. Dengan tampang kesal,
Zacky pun pergi. Tak lama kemudian Rama datang.
“Dezta,
aku mau ngomong sama kamu”
“apa ngomong aja disini”
“kamu selingkuh kan sama Tommy ? kamu bilang dia itu
mantan kamu tapi kenapa kamu bohongin aku ?”
“oh gitu doang ? kamu kenal sama Tommy darimana ?
aku kan belom bilang apapun ke kamu soal dia” omongan Dezta buat Rama bungkam.
Tak lama Tommy datang ke tempat mereka. Mau pura-pura juga.
“udah deh permainan kalian bertiga udah ketauan
kok.” Kata Vidya
“permainan apa ? aku kesini mau ajak Dezta jalan.
Cowok ini siapa ? selingkuhan kamu ?” tanya Tommy. Basi ! Kita bertiga hanya
tertawa. Yang dipermainkan malah mempermainkan. Dan datanglah Virgo menarik
lengan baju Zacky yang hampir kabur. Virgo menyalakan rekaman video mereka
secara frontal didepan umum. Sengaja biar Vidya dan Dezta tau siapa sebenarnya
mereka walaupun sebenarnya tadi malam Vidya dan Dezta sudah melihatnya
“bagus ya kalian mau ngancurin persahabatan kita”
kata Dezta
“nih rasain akibatnya” segelas jus apel tersiram ke
wajah Zacky oleh Vidya. Dan semangkuk kuah panas bakso pun mampir ke baju Rama
dan Tommy. Dengan wajah malu sekaligus kesal mereka pergi. Kami berempat
tertawa mlihat kepergian dan kegagalan mereka. Vidya dan Dezta meminta maaf
sekali lagi padaku. Sebuah rasa persahabatan yang sangat tulus dariku memaafkan
mereka.
“makasih
ya Go kamu baik banget” aku tau ini karena jasanya.
“iya
sama-sama. Ini semua aku lakuin buat kamu.”
“kenapa
kamu baik banget sama aku?”
“Karena,,,
aku,,,”
“aku apa ?”
“sayang
sama kamu Nay.”
“sayang gimana ? karena kita teman baik?”
“aku gak tau karena apa. Yang jelas aku saying sama
kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?” Aku kaget dan diam gak bergerak. Kedua
sahabatku malah mengompori aku “jadiaan,, jadiaan”. Aku tak percaya ternyata
orang terdekat yang selama ini sangat dekat denganku ternyata dia menyukaiku.
Aku tersenyum menatap ketegangannya. Aku menarik napas panjang.
“iya Go.
Karena aku tau kamu baik banget sama aku. Dan kamu sepertinya sayang sama aku
tulus. Aku mau jadi pacar kamu” semua bersorak mendengar jawabanku. Virgo
mengucapkan terima kasih dan berjanji akan menjaga aku dengan caranya. Aku
mengenal Virgo dan Virgo mengenalku dengan baik. Tak ada alas an untukku untuk
menolak bersamannya. Bahkan dialah yang begitu sangat memperhatikan aku ketika
sahabat-sahabatku tak ada didekatku. Dan sahabat-sahabatku lah yang ada
didekatku disaat aku kesulitan mencari sebuah cinta, dan ternyata jodoh itu gak
kemana. Dialah Virgo, my boyfriend and my friendship. Ya inilah gaya hidup. Ada
pilihan yang harus dipilih, baik itu buruk ataupun baik untuk kita. Kemarin
kedua sahabatku lebih memilih boyfriendnya daripada friendship. Dan kini aku
belajar dari sebuah kesalahan. Aku memilih boyfriendku karena aku mengerti arti
sebuah friendships J
Komentar
Posting Komentar