Langsung ke konten utama

AIR MATA TERAKHIR di 12 P.M

Seandainya boleh kupinjam sebatang panah beserta busurnya dari sang cupid, bolehkah aku menancapkannya dihatimu ? Dan apabila dewi Amore memberiku sehelai benang merah dari sakunya, maukah kau mengizinkan aku mengaitkannya dijiwamu ?

AIR MATA TERAKHIR di 12 P.M

Aku menutup lembaran diary ku dan meletakan pena disampingnya. Mataku terarah pada sosok pria yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi yang membaik. Perlahan matanya terbuka dan pandangannya berhenti pada mataku yang saling beradu. Aku tersenyum.
"Alya, aku kenapa bisa disini ?" katanya sambil berusaha bangun.
"Emangnya kamu gak ingat ? Tadi tuh kamu nolongin aku Thur. Kalo tadi kamu gak dorong aku ke trotoar mungkin aku yang akan ditabrak" kataku menjelaskan.
Panggil aku Alya, gadis yang hampir saja ditabrak oleh minibus yang ugal-ugalan, dan gadis beruntung yang telah diselamatkan pahlawan tampan bernama Arthur. Ini bukan pertama kalinya Arthur menyelamatkanku dari musibah akibat kecerobohanku sendiri. Bahkan saat pertama kali aku bertemu pun dengan cara penyelamatan.
Tiga bulan yang lalu saat Arthur masih menjadi mahasiswa baru yang pindah ke kampusku. Aku yang kerepotan membawa buku dari perpustakaan tak sengaja menginjak  botol bekas pun jatuh. Untung ada Arthur, karena saat itu dia yang memapahku hingga aku tak terbentur ke lantai. Disitulah pertemuanku dengannya. Tiap harinya selalu ada kisah tentang aku bersamanya. Meski teman barunya banyak tapi dia tak lupa menyisihkan waktunya untukku. Arthur, yang selama ini selalu ada untukku, untuk kesekian kalinya berhasil menyelamatkan gadis buruk rupa yang kini ada disampingnya.
"Oh iya aku inget. Yaampun Alya lagian ada apa kok kamu ngelamun tengah jalan ? Ada masalah ?"
"Gak apa-apa kok. Aku cuma tadi kepikiran..." aku menghentikan ucapanku, teringat akan sebuah kisah 4 bulan lalu. Sebuah cinta pertama yang tak bisa kulupakan.
"Pasti mikirin Tian ya ? Alya, cinta pertama memang indah, tapi bukankah lebih mengesankan ketika kamu mendapatkan cinta yang terakhir ?"
"iya Thur, gak tau kenapa saat aku berusaha ngelupain dia malah yang ada aku yang selalu teringat. Aku cape dibayang-bayangi sosok pria yang menghilang gitu aja tanpa kepastian. Bilang putus enggak, main pergi aja gak pake permisi. Kalah deh maling" Air mataku berjatuhan meski ucapanku telah dibalut dengan canda. Arthur tersenyum sambil mengelus rambutku. Tangannya menhapus air mata yang mulai membanjiri pipiku. Dialah yang paling mengertiku saat situasinya seperti ini.
"Alya, lihat aku. Kamu gak boleh terus-menerus berada dalam kesedihan. Kamu rugi lho, masa demi laki-laki seperti dia saja hidupmu dipenuhi dengan kegalauan ? Coba hitung berapa banyak air mata yang sudah kamu keluarkan ? Berapa lama waktu yang kamu sia-siakan ? Lihat, masih ada aku. Kamu harus tegar Alya" Aku tersenyum. Aku senang bertemu Arthur. Dia tampan, tapi tak membuatnya angkuh memilih siapa temannya. Dia selalu ada dibanding sahabatku. Matapun berpandang.
Malam ini seharusnya terlihat mempesona. Cahaya bintang dan sinar bulan kali ini tak tampak karena awan mendung menguasai langit malam. Tak lama tetesan hujan membasahi pekarangan rumahku. Baru saja aku mengantar Arthur yang sudah dibolehkan pulang. Suara ponsel yang berbunyi mengagetkanku. Dari Arthur.
"hey Alya, belom tidur ?"
"belom nih. Baru aja sampe. Untung aja gak kehujanan. Kamu sendiri ? Ada apa telpon ? Bukannya istirahat"
"gak bisa tidur. Enggak, mau mastiin aja kamu udah sampe apa belum. Eh Al besok abis kuliah mau ngapain ?"
"kayaknya sih nggak ngapa-ngapain, emangnya kenapa ?"
 "aku mau ngajak kamu ke pantai. Mau ya ? Sekalian kita refreshing. Besok sepulang kuliah kamu aku jemput. Oke Alya ? Sampai jumpa besok" Belum juga aku menjawab sambungan telponnya terputus.
Pantai, tempat dimana aku dan Arthur akan bertemu. Deburan ombak yang terhempas pada sebuah batu karang menemani langkah kita ditepinya. Kami berhenti pada sebuah batang kayu diatas pasir dan disambut kelapa muda segar. Menyenangkan. Entah kenapa Arthur selalu bisa membuatku senang walau dalam keadaan jatuh. Dia tau yang aku butuhkan. Dia mulai menyanyikan sebuah lagu dan memetik gitar yang dibawanya. Kuharap ini bisa membuat lukaku hilang tanpa bekas. Arthur, yang selama ini layaknya seorang kekasih untukku, mengajakku membuat komitmen. Secarik kertas yang harus kutulis sebuah janji agar tidak lagi menangisi Tian, dimasukan ke sebuah botol.
"aku cuma gak mau kamu sedih, Alya" itu katanya. Aku tak mengerti akan semua sifatnya padaku. Apakah dia mencintaiku atau hanya sebatas kasihan ? Ingin sekali aku menanyakan padanya, tapi aku takut hal yang terjadi malah sebaliknya. Jujur saja, tanpanya aku lemah.
Cinta, tadinya kupikir rasa itu sudah tidak pernah lagi kurasakan ketika aku kehilangan seorang yang dulunya sangat berharga. Orang yang meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Bukan kegembiraan yang aku dapatkan saat itu, hanya penyesalan dan air mata. Disaat yang tepat Arthur datang membawa sebuket keceriaan yang harus kurasakan. Sebutir kasih sayang yang begitu berarti kudapatkan darinya. Selalu ada canda tawa yang membuatku merasa nyaman bersamanya. Lagi, Arthur mengajakku keluar rumah. Bukan restoran romantis atau taman berbunga yang diajaknya, melainkan suatu tempat yang tak bisa kugambarkan sebelumnya. Ayah dan bunda mengizinkan aku bersamanya karena mereka tau apa yang saat ini dibutuhkan anaknya, seseorang untuk kubagi kepedihannya. Arthur yang selama ini mengubahku dari seekor ulat menjadi kupu-kupu. Tatapan matanya yang tajam tapi menenangkan jiwaku selalu hadir ketika air mata ingin menetes dipipiku.
"kita mau kemana sih ? Kok mataku ditutup segala ?"
"dikit lagi sampai kok Al. Kamu tuh gak sabaran banget sih. Sabar, hati-hati jalannya"  Kami menaiki anak tangga yang tak tau menuju kemana. Yang jelas, Arthur memberiku kejutan. Anak tangga terakhir membuatku diperbolehkan untuk membuka mataku.
"tempat yang indah. Makasih Thur, kamu baik banget sama aku"
"kamu suka ? Maaf ya aku cuma bisa ajak kamu kesini"
"ini tempat yang indah Arthur. Aku suka. Makasih" Aku memberanikan diri untuk menatap matanya yang memancarkan kepuasan. Bibirnya melengkungkan senyuman.  Kami berada disisi paling atas sebuah gedung yang tak lagi terpakai. Mata yang tak henti memandangi indahnya suasana malam dari atas. Ku tengok langit, taburan bintang dan cahaya rembulan memancarkan sinarnya diantara gelapnya malam. Disisi lain gemerlap cahaya lampu menerangi kota tak kalah mempesona untuk disaksikan. Tak lupa aku dan Arthur mengabadikan saat terindah ini pada sebuah kamera. Perlahan aku bisa membuka hatiku yang tadinya terhalangi kenangan pahit dimasa lalu.
"Thur makasih ya yang semalam keren banget" kataku keesokan harinya. Sebotol air mineral kuberikan pada lelaki yang kemudian duduk disebelahku.
"iya Al. Kalo itu bikin kamu gak down lagi, aku bisa kok tiap hari bikin kejutan. Yang penting kamu senang buat aku itu berarti banget" senyum yang menghiasi bibirnya terlihat diantara nafasnya yang terengah-engah. Aku mengelap keringat yang menetes didahinya dengan handuk. Arthur mengusap kepalaku tanda terimakasih.
"eh iya nanti ada acara gak abis ini ?"
"enggak sih. Ada apa ?"
"mau temenin aku gak ke toko buku ? Ada buku yang harus ku beli buat bahan kuliah besok. Ya kalo kamu gak bisa gak apa-apa kok, aku sendiri aja"
"yaudah nanti abis ini aku antar kamu. Tungguin ya" Arthur meneguk botol minumnya sebelum kembali melanjutkan latihan basketnya. Sepertinya kami meleset dari tujuan pertama tadi. Seusai mendapatkan buku yang dicari Arthur menemaniku mengelilingi seisi mall. Perjalanan kami berakhir pada sebuah kafe. Cerita dan canda menghiasi percakapan kita. Aku mulai menyukai semua yang ada pada Arthur. Matanya, senyumnya, sifat, semuanya. Namun bagaimanapun rasa cinta untuk orang yang pernah ada dihati belum bisa kuhapus. Dan saat kutolehkan pandanganku, aku melihat sosok yang menorehkanku luka.
"Alya, kamu kenapa ? Hey, ada apa ?" tanya Arthur yang heran melihatku terdiam dengan airmata yang memenuhi kelopak mataku.
"Arthur, aku mau pulang sekarang" Aku beranjak dari kursi. Arthur mengejarku, menahanku tepat saat pandanganku terarah pada Tian bersama gadis lain.
"ada apa Alya ?" dia menatap mataku yang basah. Tangannya menggenggam erat tanganku yang lemah, walau tak serapuh hati ini. Aku menunjuk ke lelaki disisi lain.
"kamu lihat disana. Itu yang namanya Tian, orang yang..." Aku tak mampu melanjutkan kalimatku. Arthur menoleh dan menarik tanganku menuju orang itu.
"sorry bisa bicara sebentar ?" katanya pada Tian yang kemudian dipertemukannya denganku. Dia tersentak menatapku.
"Alya ?" tanyanya tak percaya.
"Nah Tian, emang saya gak tau apa masalah kalian. Tapi mungkin ada yang mau disampaikan Alya yang udah nunggu anda dari lama" kata Arthur. Aku tak bisa bicara, aku terlalu lemah. Menatap matanya saja aku tak kuat. Arthur berada disampingku, menguatkan aku atas segala kerapuhanku. "kamu harus kuat Alya" bisiknya.
"Tian, kamu masih ingat aku ?" kataku memulainya. "1 bulan kita bersama mungkin bukan arti apapun buat kamu. Kamu kemana saat itu ? Pergi begitu saja tanpa ada sebuah kepastian putus lanjut. Kamu anggap aku ini apa Tian ? Aku menyesal telah mengenal kamu" Aku lega, akhirnya semua yang membebani hatiku terungkap.
"oke Alya, sorry kalo aku ninggalin kamu tiba-tiba. Jujur kamu itu terlalu baik, aku takut aku akan menyakiti kamu disuatu hari nanti. Maaf"
"kita putus" kata yang seharusnya terucap sejak dulu kini kulontarkan. Tian menunduk dan perlahan pergi, tak ada penyesalan dalam wajahnya. Aku menangis lagi.
Ini kedua kalinya aku ke pantai, tempat dimana aku pernah mengunjunginya bersama Arthur. Dari balik sinar mentari yang hampir tenggelam aku masih berusaha menahan tangisanku. Yang seharusnya tak ada.
"udah lega ?" tanya Arthur. Aku mengangguk, tetap menatap kosong langit yang berubah menjadi malam. Arthur tersenyum, memberikan jaketnya untukku.
"kamu masih ingat ka janji yang tertulis dikertas dalam botol ini ?" Aku meliriknya lalu menunduk. Itu botol janji kita.
"kamu melanggarnya. Aku kecewa sama kamu yang belum bisa melepas dia. Aku ngerti banget. Kalau mau nangis, nangislah"
Mata coklat Arthur menatapku, mempersilahkanku menangis dibahunya. Aku hanya memandangnya sebentar. Aku tak kuat menahan sisa emosi yang tak bisa kuluapkan. Tetesan air mata jatuh ditubuh Arthur yang hangat saat dia mendekapku dengan erat.
"denger-denger makan coklat bisa menenangkan pikiran ya ?" tanya Arthur, aku pun heran. Tak lama dari balik tangannya diberikanlah sebungkus coklat untukku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang konyol. Haruskah saat ini kutanyakan ?
"kamu kenapa baik banget sama aku ?" Yang ditanya salah tingkah. Dia hanya tersenyum.
"Besok aku kasih tau ya Alya. Udah malam pulang yuk" Aku melemparkan botol janji itu ke laut dan beranjak pulang walau aku masih menunggu jawaban dari Arthur.
Sibuk, mungkin itu yang sedang kami alami sehingga Arthur dan aku sudah jarang bertemu. Dia yang sibuk dengan pertandingannya membuatku merasa rindu dengannya.Aku sering mengintipnya di stadion, tentu saja dia tak melihatku. Aku kaget melihat siapa yang menemuiku saat itu, Tian.
"Alya aku mau ngomong sama kamu. Aku mau minta maaf sama aku. Aku tau aku salah. Aku, masih sayang sama kamu. Aku sadar kamu yang bisa ngertiin aku. Aku mau balik lagi sama kamu" katanya
"maaf aku gak bisa. Aku punya yang lebih baik dari kamu. Orang yang jauh lebih mengerti aku saat aku jatuh, terima aku apa adanya. Hati aku mati rasa sama kamu"
"Orang itu siapa ?" Aku tak menjawabnya, bergegas pergi meninggalkannya. Aku sudah tak bias menangisinya. Aku menoleh ke lapangan saat Tian meneriakkan namaku. Dan terlihat Arthur melihatku.
Jam dinding berdentang menunjukkan pukul 7 malam. Sendirian dirumah ternyata membosankan. Arthur ikut menghilang bersama pertanyaan yang belum dijawab. Bel berbunyi ditengah kesunyian. Aku membuka pintu, tak ada siapapun. Sekuntum bunga mawar merah bersama secarik kertas kecil tertinggal dibawahnya. Kucari pengirimnya namun jejaknya tak kutemukan. Ada pesan didalamnya. “kamu masih berminat mendengar jawabanku ? Temui aku besok jam 12 siang di taman bandara. Aku harap kamu datang ya, soalnya aku akan meninggalkan Jakarta. Arthur" Aku menangis lagi. Apa yang akan terjadi ?
Pukul 12 p.m, kudatangi tempat yang dimaksud. Sekotak kado untuknya telah ada digenggamanku. Di kursi taman, kulihat sosok yang pernah mewarnai hariku. Tas ransel dan sebuah bingkisan hadir diataranya. Aku mendekat saat dia melihatku. Aku tak ati menahan rindu yang telah lama dipendam. Kurasakan pelukan yang hangat darinya.
“Thur, kamu mau kemana ? Jangan pergi lagi” kataku. Arthur perlahan melepaskan pelukannya. Dia menatapku.
“kamu masih ingin mendengar jawabanku tempo lalu ?” Aku mengangguk. “karena aku pernah merasakan hal yang sama. Sebuah penolakan yang perlahan membuatku takut. Aku takut kamu hanya menganggapku sebagai orang yang gak penting. Tian pertama buat kamu kan ?”
“bukan lagi. Posisinya tergantikan saat kamu berhasil membuatku melupakan dia. Kamu yang pertama sekarang. Tanpa kamu aku rapuh. Kasih aku kepastian Thur” Arthur tersenyum cerah. Matanya menggambarkan keceriaan.
“Alya, terus terang aku senang dengarnya. Jujur, aku baik sama kamu juga karena,, aku ating sama kamu” Aku tersenyum. Mataku kembali meneteskan air mata, air mata kebahagiaan. Arthur menghapusnya dengan tangannya. “kamu mau jadi pacar aku ? Aku gak ati membuat komitmen apapun, aku takut aku melanggarnya dan menyakiti orang yang paling aku ating” Aku tersenyum sebagai tanda aku menerima ketulusannya. Ini air mata terakhir yang kuteteskan. Arthur memberiku sebuah boneka beruang dan aku memberinya handuk kecil yang tertulis namanya.
“tunggu aku kembali ya. Sebentar lagi pemberangkatanku ke Medan ating. Doakan tim basketku menang” Kecupan mendarat dikeningku. Aku melepas kepergian kekasihku yang kuharap lebih cepat kembali. Doaku selalu mengiringi langkahnya. Selamat jalan Arthur, aku menanti kehadiranmu kembali disini.
-          Tamat –


BIODATA PENULIS

Nama               :           Alfiani Ratnaningtyas
Nama Pena      :           Yazhume
Judul Cerpen   :           AIR MATA TERAKHIR di 12 P.M
Alamat                        :           Jalan Cempaka Putih Timur 17
                                    Rt 006/03 no 15 Jakarta Pusat
No. Telpon      :           021-4226979 / 08999804881

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...