Langsung ke konten utama

Bidak Catur

tik tik tik.
30 detik berlalu....

Anak catur pertama maju satu kotak pindah dari tangan lelaki tua yang usianya sudah memasukki kepala 8. Dihadapannya tersebar papan catur beserta tokohnya. Dia bermain sendiri tanpa teman. Yang menjadi lawannya saat ini hanyalah dirinya sendiri. Seorang anak kecil berusia 10 tahunan yang sedari tadi melihatnya pun menghampiri. Heran, itu tepatnya.
"kakek bermain sendiri?" tanyanya.
"seperti yang kamu lihat dik"
Anak itu hanya mengangguk dan mencoba memindahkan salah satu bidak catur yang bentuknya kuda. Tapi...
"Yang itu jalannya L nak. jangan dulu kau pakai"
"Lalu yang mana dulu?"
"Mainkan anak buahnya dulu yang paling depan"
Anggukan kedua kembali dilakukan anak itu. Lalu sang kakek menggerakkan anak buah dari warna yang berbeda. Hup, satu anak catur milik si anak diambilnya. Sang anak bingung.
"Kenapa bisa anak buah itu mengalahkan anak buah dari bagianku ?"
"Karena lawan mereka satu level nak"

Tik tik tik tik...
60 detik terkewati..
Sang anak telah kehabisan anak buah pada caturnya . Dan ia mulai memainkan salah satu bidak yang ada ditengah, dan itu ada di barisan paling belakang. Lagi. kakek itu menegurnya.
"Jangan pakai yang itu dulu nak, itu namanya Raja. Gunakan saja kudamu dulu ke kanan. Bisa kamu tutupi jalan yang sejajar dengan benteng yang kamu miliki"
Takut kalah, anak itu bukan menggerakkan ke kanan, melainkan ke kiri yang membuat jalan di depan benteng putihnya tak terhalang. Kakek itu menarik bibirnya setengah, kemudian dipindahkannya benteng hitam untuk memakan benteng putihnya. Si anak terperangah.
"sudah kubilang lindungi bentengmu nak. Jangan salahkan lawanmu bila berhasil mengambil bagiamny sementara pertahananmu sendiri yang tak kuat"

Lama mereka bermain hingga tinggal beberapa bidak lagi, Jumlah mereka tak lagi sama, 4:2 untuk si kakek dan anak itu. Semua berhadapan.
"aku menyerah kek. Aku bingung. Kenapa sang raja harus duduk diam sementara anak buah dan prajuritnya berjuang mati-matian? Kenapa setelah bawahannya mati baru sang penguasa itu mau turun ? Ah aku frustasi !"
Rokok yang baru saja dibakar api dari kotak korek bertulisan "LONDON" itu langsung dihisap oleh sang kakek. Dia tersenyum.
"Hey nak, bukankah kehidupan juga seperti itu ? Raja adalah sesuatu yang amat penting. Dan tugasmu adalah melindungi pertahanannya, mengalihkan perhatian lawannya, dan melakukan segala cara agar apa yang amat sangat penting itu menjadi tetap milik kita. Begitu pula kehidupan. Yang kecil melawan yang kecil, dan yang besar melawan yang besar. Kenapa ? Karena mereka berasa di level yang sama. Kemampuan mereka sama. Tingkat kekuasaan mereka sama. Bila yang kecil mudah dikalahkan maka akan lebih mudah meruntuhkan pertahanan lawanmu. Dan tentu dengan strategi yang bisa dijalankan bersama pasti akan dengan mudah bisa kamu jatuhkan lawanmu. Dan kamu , berperilakulah seperti bermain catur. Pasang strategi, lalu kenali lawanmu, selesaikan masalah kecilmu lalu kamu akan siap hadapi yang besar. Ingat itu nak"

Sang anak mengangguk mengerti , kemudian ia pamit pulang. Sehirup lagi batang rokok itu habis, ia mengambil sebuah kartu di dompetnya. Sebuah ID Card dengan logo perusahaan yang namanya telah bangkrut. Dan disitu tertera nama beserta jabatannya.
Nama : BRANDON SABITO DAMANIK
Jabatan : Presiden Direktur PT Golden Rich Indonesia

Dia tersenyum lirih. Dalam diam ia merenung sejenak, dan terucap sebuah kalimat...
"...seandainya dulu aku tidak egius dan bertindak sembarangan, dan kita bekerja sama memasang strategi mungkin saham dari perusahaan itu tidak jatuh ketangan lawan..."

***Tamat***

Sinopsis ini belum ditayangkan.
Berminat silahkan email ke tyazhalfhiany@yahoo.co.id
Terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...