Langsung ke konten utama

Tama-gotchi (part 1)

        Pernah liat pemuda tampan berkutat dengan ipadnya atau earphone di telinganya? Itu sih sering. Kalau pemuda yang selalu menggenggam buku kemanapun dia pergi ? Kayaknya juga banyak deh. Gimana kalau cowok yang selalu membawa sebuah benda kecil dan harus selalu rutin memainkan game yang ada didalamnya ? Benda apa itu ? Ini dia,,,

TAMA(GO)TCHI  (part 1)


"lo ngeliatin siapa sih ?" tanya Cassy padaku.
"tuh liat deh yang lagi duduk di peron ngerasa gak sih lagi liatin kita ?"
           "iya sih Yes. Tapi apa iya dia ngeliatin kita ? Emang sih yang duduk disini kan kita doang" sambil clingak-clinguk melihat orang sekitar. Memang disitu cuma ada kita berdua yang duduk di kaffe yang sebenarnya tidak beroperasi.
"lo mau ikut gue samperin dia gak ? Kereta kita juga masih 2 jam lagi kan" 
           "hah ? Lo gila , kita kan gak kenal. Hey Yessa tunggu..." terlambat, aku sudah jauh melangkah meski aku masih mendengar ocehannya. Bukan Yessa namanya kalo gak datang langsung dan mencari tau apa yang membuatnya penasaran.

            Kini aku berada di hadapan lelaki yang seumuran denganku, lengkap menggenggam sesuatu yang sepertinya belum pernah aku lihat sebelumnya. Pernah sih tapi gak sesering anak muda lainnya yang biasanya memegang laptop atau android yang mahal punya.
           "sorry daritadi lo kenapa ya liat ke arah gue sama temen gue ?" tanya ku pada dia.
           "gak apa apa kok cuma kayaknya kamu daritadi datang ke stastiun gak naik keretanya. Memang keretanya belum dateng ?" tanyanya membuka percakapan.
           "yah begitulah, tadi keretanya udah dateng cuma penuh banget yaudah nunggu lagi yang jam 2. Lo sendiri ? Kita perhatiin kayaknya gak ngelakuin kegiatan lain deh selain megangin itu" kataku smbil menunjuk ke benda yang daritasi digenggamnya.
          "ini ? Oh ini namanya tamagotchi. Aku suka menghabiskan waktuku untuk bermain ini "
          "tamagotchi ? Apa itu ? Biasanya kan pemuda seperti lo mainnya gadget yang keren atau andoid yang mahal. Kok lo malah mainan alat yang kayak gituan ?" aku bingung, Cassy apalagi. Jujur saja sempat aku melupakan kehadirannya disampingku sejak aku sibuk dengan cowok manis yang satu ini.
         "Tamagotchi itu mainan yang memungkinkan kita memelihara binatang dari mulai telur atau bayi sampai dengan dewasa, yang membuat kita belajar bertanggung jawab pada kehidupan si hewan.. Mulai dari memberi makan, ngajak main, membersihkan pup, memberi obat, belajar, bahkan sekedar menyalakan/mematikan lampu. Begitu"
         "intinya kayak melihara hewan dalam bentuk game gitu ?" tanya Cassy. Yang ditanya mengangguk, aku tercengang heran. Masih adakah permainan jadul itu di abad ini yang dimainkan oleh tokoh modern ?
        "kayaknya kereta kalian udah datang tuh. Sebaiknya cepat mumpung belum penuh" ucapnya. Kami pun  beranjak meninggalkan dia bersama tamagotchi-nya itu.
       "oh iya nama kamu siapa ? Nomor handphone kamu ? Siapa tau kita bisa ngobrol lagi. Aku Yessa dan ini Cassy"
       "panggil aja Tama. Kalau mau ketemu aku, datang saja kemari di jam yang sama. Ini untukmu, tangkap" Dia melemparkan benda itu dan hupp,, tertangkap. Tama melambaikan tangannya sembari mengeluarkan tamagotchi-nya yang lain. Aku hanya tersenyum dari balik jendela, dan Cassy... oh rupanya telah tertidur di bangku kereta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...