Langsung ke konten utama

PENCERAHAN

Mungkin selama ini hanya ibu yang selalu menjadi kebanggaan di kehidupan orangtua. Tapi tahukah kalian bagaimana rasanya menjadi ayah berperan ganda sebagai ibu ? Itulah yang aku rasakan saat ini, sejak ibu meninggalkan aku dan ayah yang dalam keadaan tidak sehat jiwanya. Betapa tega ibunda yang selama ini aku sayang semata-mata meninggalkanku hanya untuk sebuah jabatan di perusahaannya, lalu pergi dengan lelaki kaya tanpa memikirkan bagaimana aku dan ayah !

Aku ingat ketika bunda membawa tasnya dan mendorong ayah yang sedang menahannya pergi. Itu berawal sejak perusahaan ayah bangkrut. Biasalah mana tahan hidup miskin ! Mungkin itu yang ada dipikiran ibuku saat itu. Itulah akibat dari pernikahan yang terpaksa ! Ya, terpaksa. karena kakek dari bundaku tak bisa melunasi hutangnya kepada nenek dari ayahku. Ribet memang kalau sudah menyangkut soal ekonomi. Akhirnya orangtuaku menikah, intinya hanya untuk melunasi hutang dari kakekku saja, bukan dari cintanya ! Ya wajar saja bila bunda meninggalkan ayah lantaran jatuh miskin. Ayahku stres dan bundaku berbahagia dengan suami barunya yang lebih kaya. Tak ingat akan aku dan ayah.

"Kanaya dimana Kanaya ?" aku mendengar ayah sepertinya mencariku.
"iya ayah aku dibalkon" sahutku
"Kanaya, Kanaya, Kanaya. jangan tinggalin ayah nak" aku menangis mendengarnya. Sepertinya ayah takut aku pergi seperti bunda. selalu begitu setiap aku tak berada disampingnya.
"enggak ayah, sini ayah sama Kanaya" ajakku
"iya diam ya jangan kemana-mana"
"iya ayah, cepet ayah kanaya disini" tak lama ayahku datang membawa dua cangkir coklat panas.
"Kanaya mau coklat ? maaf tapi murah. tapi gak usah deh nanti Kanaya pergi kayak bunda kalau minum yang murah-murah" kata ayah yang berniat kembali lagi ke dapur
"enggak ayah, Kanaya suka kok. mana buat Kanaya ?" ayah selalu begitu, takut kalau aku meninggalkannya jika dia memberikan aku sesuatu yang murah. Trauma akan kepergian bunda mungkin. Lalu dia memberikan cangkir dari tangannya untukku.
"kamu apa kabar ?" tanya ayah
"aku baik ayah, kan selalu sama ayah. Kenapa ayah ?"
"ayah khawatir sama kamu sayang. Ayah gak mau kehilangan kamu. Ayah sayang sama Kanaya"
"iya aku tau kok yah. ayah, Kanaya boleh tanya sesuatu ?"
"iya tanya apa ?"
"ayah, besok sekolahku ada wisuda. Ayah mau menemani aku ? Aku lulus ayah. Aku akan meneruskan kuliah seperti yang dulu ayah mau. Mau ya ayah ?" ayah tampak bingung dengan ucapanku. Aku tau dia sakit, tapi aku tak ingin membahas soal jiwanya. Bagiku ayah sehat dan sempurna.
"wisuda itu apa ? Kamu lulus apa ?" tanya ayah bingung namun dia tetap memamerkan senyumannya. Aku menjelaskan semua pada ayah dari kelulusanku sampai masalah wisuda. Ayah hanya mengangguk saja sambil berkata "oh gitu" setiap kalimatku selesai.
"jadi gimana yah, ayah temani aku wisuda ya ?" ayah kemudain mengangguk setelah izinu terlontar. AKu memeluknya sebagai tanda terima kasihku. semoga besok berjalan lancar.

Mungkin ini yang namanya pengabdian kepada orangtuanya. Bukan hanya mereka yang harus mengasihi kita tapi begitu juga anaknya. Ayah yang berperan ganda menjadi sang ibu, dan aku berperan sebagai ibu yang merawat ayah. Memang bukan ini yang aku mau, tapi ini yang aku butuhkan. Kasih sayang dari keluarga kecil yang indah dan pencerahan yang Tuhan beri untuk semua makhluknya selepas dari masalah yang kelabu.

tamat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sesal

Maaf, saat itu ku tak ada disekitarmu. Maaf, saat kau butuh aku tak didekatmu. Maaf, saat ajalmu menjemput aku tak bisa berbuat. Hanya maaf dan penyesalan yang tersisa. Andai aku menjagamu dulu. Terlambat. Aku terlambat menyadarinya. Kau tak lagi didunia. Aku tak bisa membohongi diri bahwa aku ingin menangisi pusaramu, Membanjiri batu nisan diatas tanah yang kini menyelimutimu. Menjadi tempat peristirahatanmu. Andai aku bisa mengerti bagaimana memisahkan ego dengan kemauan. Aku bodoh. Padahal semua sayang yang kau beri tak sebanding dengan apa yang kuperbuat untuk membalasnya. Maaf. Hanya doa yang bisa kuhadiahi. Aku tau kau tak lagi mengharapkan apapun lagi. Karena Tuhan kini telah memelukmu, dan kau bisa meminta langsung padanya. Aku menyesal. Bahagia disana, tunggu aku disurga sang pencipta :'-)

(: For ya , December , 22nd. i'll never forget you :)

rasanya baru kemarin, kita tertawa dan bercanda. bahkan sering kau meledek aku, dengan leluconmu yang khas. rasanya baru kemarin , aku mendengar berita akan dirimu. Tuhan menghadiahkan mu bencana. Tapi kamu tetap tegar. rasanya baru kemarin, aku melihatmu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. meminta untuk berdoa bersama pada sang Khalik. senyuman yang ikhlas, yang langka. rasanya baru kemarin. mendengar harapan kamu yang terakhir, meminta ku menjadi dokter. kau bilang biar dapat menyembuhkan sakitmu sendiri. ya, kamu bilang begitu. rasanya baru kemarin, aku mengantarmu ketempat terakhirmu. melihat mereka menggali tanah kuburmu. melihat kita semua menghamburkan bunga wangi diatasmu. saat kamu pergi meninggalkan kita semua dengan manis, senyuman ikhlas yang kamu tinggalkan. aku tak bisa maminta apapun lagi. aku rasa kamulah yg kini begitu dekat dengan-Nya. kamu bisa saja menengadahkan tanganmu dan mengucapkan permohonanmu,. ...

GORESAN KECIL

Hey, masih ingat kapan kamu menginjakkan kakimu dibumi ini ? Beberapa puluh tahun yang lalu ? Tentu saja, saat itu adalah masa dimana ayah dan ibumu membimbingmu mengenalkan dunia ini padamu. Dunia yang Tuhan ciptakan dengan amat sangat indah. Boleh tanya lagi, masih ingat saat usiamu memasukki sekolah taman kanak-kanak ? Apa cita-citamu saat itu ? Dokter? Guru? Atau bahkan presiden ? Dan saat itu kamu perjuangkan mati-matian untuk mengejar dan meraih impianmu itu. Belajar, membaca, bertanya, dan juga membandingkan hal satu dengan lainnya Dan saat itu pikiran kita masih belum terbagi oleh hal-hal yang memang tak seharusnya, yang bukan untuk tujuan hidup kita. Lalu saat ini bagaimana ? Masih inginkah kamu meraih cita-citamu yang dulu ? Saat ini kita hanya ingin jadi orang sukses. Entah apa yang dikerjakan yang penting dapat uang. Berbeda dengan cita-cita yang dulu ya.. Saat ditanya masih ingatkah dengan cita-citamu dulu ? kau hanya menjawab "Al...