Mungkin selama ini hanya ibu yang selalu menjadi kebanggaan di kehidupan orangtua. Tapi tahukah kalian bagaimana rasanya menjadi ayah berperan ganda sebagai ibu ? Itulah yang aku rasakan saat ini, sejak ibu meninggalkan aku dan ayah yang dalam keadaan tidak sehat jiwanya. Betapa tega ibunda yang selama ini aku sayang semata-mata meninggalkanku hanya untuk sebuah jabatan di perusahaannya, lalu pergi dengan lelaki kaya tanpa memikirkan bagaimana aku dan ayah !
Aku ingat ketika bunda membawa tasnya dan mendorong ayah yang sedang menahannya pergi. Itu berawal sejak perusahaan ayah bangkrut. Biasalah mana tahan hidup miskin ! Mungkin itu yang ada dipikiran ibuku saat itu. Itulah akibat dari pernikahan yang terpaksa ! Ya, terpaksa. karena kakek dari bundaku tak bisa melunasi hutangnya kepada nenek dari ayahku. Ribet memang kalau sudah menyangkut soal ekonomi. Akhirnya orangtuaku menikah, intinya hanya untuk melunasi hutang dari kakekku saja, bukan dari cintanya ! Ya wajar saja bila bunda meninggalkan ayah lantaran jatuh miskin. Ayahku stres dan bundaku berbahagia dengan suami barunya yang lebih kaya. Tak ingat akan aku dan ayah.
"Kanaya dimana Kanaya ?" aku mendengar ayah sepertinya mencariku.
"iya ayah aku dibalkon" sahutku
"Kanaya, Kanaya, Kanaya. jangan tinggalin ayah nak" aku menangis mendengarnya. Sepertinya ayah takut aku pergi seperti bunda. selalu begitu setiap aku tak berada disampingnya.
"enggak ayah, sini ayah sama Kanaya" ajakku
"iya diam ya jangan kemana-mana"
"iya ayah, cepet ayah kanaya disini" tak lama ayahku datang membawa dua cangkir coklat panas.
"Kanaya mau coklat ? maaf tapi murah. tapi gak usah deh nanti Kanaya pergi kayak bunda kalau minum yang murah-murah" kata ayah yang berniat kembali lagi ke dapur
"enggak ayah, Kanaya suka kok. mana buat Kanaya ?" ayah selalu begitu, takut kalau aku meninggalkannya jika dia memberikan aku sesuatu yang murah. Trauma akan kepergian bunda mungkin. Lalu dia memberikan cangkir dari tangannya untukku.
"kamu apa kabar ?" tanya ayah
"aku baik ayah, kan selalu sama ayah. Kenapa ayah ?"
"ayah khawatir sama kamu sayang. Ayah gak mau kehilangan kamu. Ayah sayang sama Kanaya"
"iya aku tau kok yah. ayah, Kanaya boleh tanya sesuatu ?"
"iya tanya apa ?"
"ayah, besok sekolahku ada wisuda. Ayah mau menemani aku ? Aku lulus ayah. Aku akan meneruskan kuliah seperti yang dulu ayah mau. Mau ya ayah ?" ayah tampak bingung dengan ucapanku. Aku tau dia sakit, tapi aku tak ingin membahas soal jiwanya. Bagiku ayah sehat dan sempurna.
"wisuda itu apa ? Kamu lulus apa ?" tanya ayah bingung namun dia tetap memamerkan senyumannya. Aku menjelaskan semua pada ayah dari kelulusanku sampai masalah wisuda. Ayah hanya mengangguk saja sambil berkata "oh gitu" setiap kalimatku selesai.
"jadi gimana yah, ayah temani aku wisuda ya ?" ayah kemudain mengangguk setelah izinu terlontar. AKu memeluknya sebagai tanda terima kasihku. semoga besok berjalan lancar.
Mungkin ini yang namanya pengabdian kepada orangtuanya. Bukan hanya mereka yang harus mengasihi kita tapi begitu juga anaknya. Ayah yang berperan ganda menjadi sang ibu, dan aku berperan sebagai ibu yang merawat ayah. Memang bukan ini yang aku mau, tapi ini yang aku butuhkan. Kasih sayang dari keluarga kecil yang indah dan pencerahan yang Tuhan beri untuk semua makhluknya selepas dari masalah yang kelabu.
tamat.
Mungkin ini yang namanya pengabdian kepada orangtuanya. Bukan hanya mereka yang harus mengasihi kita tapi begitu juga anaknya. Ayah yang berperan ganda menjadi sang ibu, dan aku berperan sebagai ibu yang merawat ayah. Memang bukan ini yang aku mau, tapi ini yang aku butuhkan. Kasih sayang dari keluarga kecil yang indah dan pencerahan yang Tuhan beri untuk semua makhluknya selepas dari masalah yang kelabu.
tamat.
Komentar
Posting Komentar