Siapa yang tidak ingin merasakan kepopuleran ? Pernahkah kamu menjadi orang yang terabaikan, tak dianggap ada, bahkan dikucilkan ? Bagaimana rasanya menjadi orang yang disepelekan ? Semua bisa ditanyakan pada Arola, gadis SMA yang selalu merasa dirinya pintar, namun tak satupun orang menyadarinya. Berawal dari kisah hidupnya di SMP, Arola adalah anak yang pintar sekali. Semua kejuaraan diraihnya. Murid-murid yang pernah menjadi teman sekelasnya mengakui kepandaiannya. Tapi dibalik prestasi yang telah diraihnya, Arola bukan anak yang populer. Dia tak sepopuler Carola kembarannya, dan Carola pun tak sepandai Arola yang iri padanya. Bukankah skornya satu sama ?
Zaman telah berubah. Arola kini telah bermetamorfosa menjadi gadis populer di sekolahnya. Itu semua berkat keberaniannya menolak OSPEK dari OSIS yang menurutnya tidak baik. Ternyata dia mendapat penghargaan dan menjadi kepercayaan OSIS. Tak heran bila ia menjadi terkenal.
“Eh, nanti pada mau kemana ?” tanya Ledy pada Arola dan Zesky.
“Aku langsung pulang ah. Kamu La ?”
“Mau keperpustakaan aja ah” Kedua temannya heran
“Hari gini masih zaman apa ke perpustakaan ? Cuma orang pintar aja tau yang kesana. Emang kamu termasuk orang-orang pintar ?” ledek Ledy.
“Tau nih ada-ada aja. Kita jauh kali dari kalangan siswa teladan, apalagi pintar?” tambah Zesky.
“Enak aja. Aku nih di SMP pintar tau. Semua kejuaraan aku yang menangin. Kamu belum tau aja !” Arola tersinggung.
“Mimpimu jangan kejauhan deh La.” Tawa makin meledak ketika Arola berlari meninggalkan mereka. Ia sebal karena kepandaiannya tak diakui.
Arola merasa kesal dengan temannya itu. Masih beruntung dia punya teman pintar. Tapi sepertinya kata itu lebih cocok digunakan saat dirinya masih SMP. Kepopuleran membuatnya buta akan prestasi. Semua yang pernah ia raih mungkin telah terkubur bahkan berkarat dalam memorinya. Arola yang dulu lancar memainkan rumus fisika dan kimia , sekarang dasarnya saja telah lupa. Sia-sia semua perjuangannya meraih ilmu jika kini ia lempar hanya demi kepopuleran semata. Dirinya kini tersandar ditiang sekolah. Menangis. Mengenang masa lalunya dimana ia selalu dipanggil keatas panggung untuk memamerkan thropy atas kemenangannya. Kini tidak lagi. Arola si anak pintar telah bermetamorfosa menjadi anak populer yang dianggap bermimpi menjadi anak pintar! Ia pun menagis makin keras.
“Hei kamu gila ya ? Nangisnya jangan kencang-kencang. Berisik tau !” terdengar suara laki-laki dari balik badannya. Arola pun tersentak. Lebih kaget begitu ia tahu siapa yang berada dibelakangnya. Dia Dega, siswa super populer yang sangat digila-gilai oleh siswi-siswi lain, namun tak pernah menunduk bila berjalan. Tapi, tidak untuk Arola.
“Heh, ngapain disini ? Terserah aku !” Arola sinis melihatnya. Wajah tampan milik Dega tak mampu untuk meredamkan kebenciannya. Kulit putih, hidung mancung dan tubuh tinggi tegap pun bukan mantera untuk menyihir Arola untuk takluk padanya seperti teman-temannya.
“Karena kamu sudah menghalangi jalanku.,”
“Lewat-lewat aja ! Jalanan masih lega tau !”
“Dasar gak jelas” Dia pun beranjak pergi dibuntuti oleh tatapan mata elang milik Arola. Dasar belagu, sok kaya, sok ganteng, mati aja sana, umpatnya dalam hati. Dia pun kembali kekelasnya untuk bersiap-siap pulang. Arola tak sadar, kejadian tadi adalah kisah pertamanya bersama Dega.
Bel pulang bordering. Suara itu bagaikan lonceng disurga bagi anak-anak yang hampir pingsan melahap pelajaran fisika di akhir sekolah. Arola hanya tersenyum melihat teman-temannya yang bersorak girang. Bel pulang baginya paling ia benci karena baginya bel pulang seperti pencabut nyawa yang telah mengganggu belajarnya. Yah itu dulu, sekarang ia tak lagi berminat memandangi buku-bukunya. Acara pamitan selesai. Ia langkahkan kakinya menuju perpus sambil menunduk, seperti gaya jalannya yang dulu. Ia rindu akan dirinya yang dulu. Tapi tiba-tiba,,,
“Bruukk…” Arola jatuh kebelakang. Begitu pun orang yang telah menubruknya. Lagi-lagi Dega !
“Heh kamu kalau jalan lihat-lihat dong !” bentak Arola.
“Eh kamu yang hati-hati. Kamu tuh yang lihat yang didepannya, bukan nunduk.” Dega tak mau kalah.
“Biarin kamu aja jalan selalu menatap langit. Mau memamerkan pada dunia kalau kamu itu populer ? Mau tunjukkin pada jagat raya betapa hebatnya kamu ? Gak pantas tau. Kamu kan bukan raja”
“Ngapain kamu mikirin aku? Kamu pikir jalan nunduk itu bagus ? Yang ada ketabrak kan ? Emang nunduk-nunduk mau ngapain sih ? Cari uang jatuh ? Haha…” Dega tertawa. Arola tersenyum. Bukan karena ia mendengar suara tawa Dega, melainkan karena ia benar-benar menemukan dua lembar uang berwarna merah berada disamping kaki Dega. Segera ia pungut uang itu.
“Tidak. Malah aku menemukannya sendiri. Hahaha “ Arola pun terbahak-bahak sambil memamerkan penemuannya itu di depan wajah polos Dega yang sedang merogoh kantung celananya.
“Itu uangku tau! Sini kembalikan”
“Enak aja ini nemu tau”
“Yee,, itu punyaku”
“Enak aja. Udah ah aku mau jajan dulu. Abis dapat rejeki nomplok.” Segera ia berbalik. Dega berniat mengambil uangnya, tapi yang ia dapatkan hanyalah kehangatan dari balakang tubuh Arola dengan tangan mereka yang sedang menyatu.
“Hei pacaran jangan disini ! Sudah pulang sana” suara satpam sekolah menyadarkan mereka yang tengah terpaku. Mereka pun melepaskan tangannya dengan wajah merah padam. Entah apa yang ada dalam perasaannya. Ia tidak dapat menolak desiran darah yang begitu cepat mengalir dari balik nadinya. Keduanya jadi salah tingkah. Arola pun mengembalikan uang Dega dan dia menerimanya. Mereka pun membalikan badannya untuk pulang. Jari tangan Arola deengan cepat mengetik pesan singat di handphonde-nya agar kedua sahabatnya segera kerumahnya. Dan sampainya dirumah diceritakanlah semuanya.
“Apa ? kamu pelukan sama Dega ? Siswa paling keren di SMA kita ?” jerit Ledy tak percaya.
“Ih beruntungnya ya kamu bisa pelukan sama dia” sambung Zesku dengan wajah penuh harapan. Ledy dan Zesky adalah salah dua korban akan sihir dari wajah Dega.
“ Hah ? Untung ? yang ada malah buntung tau ! Ralat ya, yang benar tuh bukan pelukan, tapi berebutan uang tauk !” jelas Arola
“Yah sama aja kali, La. Posisinya seperti orang yang sedang pelukan dari belakang kan ?” Tak lam kemudian bantal dari tangan Arola mampir ke wajah sang pembaca.
“Haha,, gak jadi ke perpustakaan dong ?”
“gak lah. Kepergok satpam. Masa aku dikira pacaran sama Dega.” Tawa pun menyambut dengan meriah.
“ Eh La, aku mau ke toilet nih. Dimana ya” ujar Zesky
“Yaampun, cemilan udah abis sekarang mau dikeluarin. Dari sini ada lemari, belok kiri.” Zesky pun segera mengambil langkah seribu.
“Aku lihat album fotomu ya ?” sambung Ledy yang sedari tadi matanya menuju ke laci meja belajar. Arola pun mengangguk.
“Ini siapa La ?” tanyanya sambil menunjuk foto gadis sederhana berkacamata disebelah gadis dengan pakaian yang modis yang mirip dirinya.
“Itu aku tau” jawaban dari Arola membuat bingung Ledy
“Kamu bukan yang ini ?” kali ini dia menunjuk gadis berpakaian modis itu.
“Itu Carola kembaran aku.”
“Terus itu semua piala siapa ?” Ledy melihat deretan piala diatas lemari.
“Itu pialaku semua”
“Piala kamu ? Bohong ah ?” kali ini Zesky yang bicara sambil menutup pintu setelah ia masuk. Semua tak percaya bahwa itu semua adalah pialanya.
“Iya, itu pialaku semua. Tapi sekarang aku gak pernah lagi menerima trophy karena aku,,,gak sepintar dulu” Arola kemudian menceritakan kisah hidupnya dimana ia melepaskan prestasinya demi menggapai kepopuleran seperti Carola.
“oke kalau gitu kita akan bantu kamu” Ledy menenangkan Arola dari tangisnya.
“Iya kamu bisa kembali tanpa menghilangkan kepopuleran yang kamu miliki.” Ucapan Zesky juga menenangkan hati Arola. Tiga sahabat itu tersenyum cerah.
*****
Burung semestinya gembira berkicau dan ayam biasa berkokok saat itu. Jam dinding menunjukkan jam 5 pagi. Hari itu seharusnya terang seperti biasa, tapi tidak untuk hari ini. Hujan deras seperti ditumpakan dari langit. Mata Arola seperti ditimpa beban berat sehingga untuk membuka matanya dari dunia mimpinya saja sangat sulit. Terdengar suara alarm yang lebih canggih dari alarm manapun. Ya apalagi kalau bukan suara mama.
“Yaampun Arola,, kamu mau sekolah jam berapa ? Sudah jam 5 nih. Emang kamu pikir kamu apa yang punya sekolahnya ? Ayo cepat mandi. Papa belum pulang dari Yogya, jadi kamu berangkat sendiri dan temui Carola disana. Dia pindah kesekolahmu dan dia sudah berangkat.” Kalimat itulah yng menyihir Arola dari posisi tidurnya yang kini terduduk dengan tegak. Arola pun segera bergegas menuju kamar mandi.
“Carola?” Arola kaget mendengarnya.
“Iya. Dia pindah. Dari Bandara dia langsung menuju sekolahmu. Temui dia.” Mama pun menjelaskan.
Tetap saja Arola telat sekolah. Baju seragamnya basah kena hujan meskipun payungnya melindungi. Tapi Dega pun juga begitu. Mereka telat bersama, keruang BP bersama, dihukum pun bersama. Dan dari peristiwa inilah yang mengubah rasa benci menjadi rasa sayang yang datang entah darimana. “La, kamu istirahat dulu gih. Wajahmu pucat banget tuh.” Itu buktinya kalau sebenarnya Dega itu tertarik pada Arola. Hanya saja dia tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Arola pun juga begitu. Terlihat dari tatapan matanya yang sedari tadi mengarah untuk Dega. Hukuman selesai dan mereka diperbolehkan pulang karena bel telah berbunyi. Dega mengantarkan Arola sampai rumahnya.
Sudah sebulan Carola satu sakolah dengan Arola. Sebulan pula Arola dan Dega makin dekat. Namun bukannya senang yang didapatkan. Dunia seakan berbalik. Carola yang dulu tidak sepandai Arola kini kemampuannya menjawab soal jauh melebihi Arola. Dia pun akrab dengan Dega. Bahkan ia disindir gurunya dan iapun dibandingkan dengannya. Arola, lihat tuh Carola aja pintar. Masa kamu bodoh sekali? Malu sama saudara,, kalimat itu masih terngiang ditelinganya. Kini Arola tengah berjalan sendirian tanpa tujuan. Tadinya dia berniat curhat pada Dega, tapi batal karena Carola terus saja berada disampingnya. Ia hanya mampu menulis disebuah kertas yang kemudian disimpan dalam tasnya Namun tiba-tiba saja ada firasat aneh yang menyeruak didalam hatinya. Dan ketika itu Dega menelponnya. Perasaan cemas membuatnya galau.
“Halo, kenapa Ga?” angkatnya.
“Kamu dimana aja? Carola kecelakaan mencari kamu.” Dega lalu memberitahukan dimana tempat Carola ditangani medis. Benar saja di UGD ada kembarannya yang matanya diperban. Dega bilang ia ketabrak mobil dan korneanya terkena benda tajam, mungkin kini dia buta. Arola menangis di pelukan Dega. Dia tak tahu harus bagaimana. Jalan satu-satunya ia harus menggantikannya lomba.
“Kamu yakin mau jadi pengganti Carola? Memang kamu bisa ?” tanya gurunya ketika ia mendaftar.
“Saya bisa bu. Tolong beri saya kesempatan. Setelah perdebatan cukup panjang akhirnya Arola pun diterima. Ia terus belajar seperti saat ia masih SMP dan tak lupa ia mengunjungi Carola.
Hari perlombaan pun dimulai. Arola terus berusaha memenangkan kejuaraan ini demi Carola dan ia ingin membuktikan bahwa ia bisa. Dan hasilnya, Arola juara pertama ! Kemilau bintang yang telah berkarat dalam dirinya telah bercahaya. Namun sayang, Arola ketabrak mobil dan harus dirawat. Carola yang tengah terbaring merasakan firasat aneh tentang Arola. Firasat anak kembar.
“Arola…” teriaknya. Dega yang menemaninya seera menenangkannya.
“Tenang, dia sudah dalam penanganan dokter”
“Arola akan mati”
“Huss jangan bilang gitu !”
“Firasatku bilang begitu !”
‘Firasatmu ? Hei, kamu bukan Tuhan”
“Tapi Tuhan memberikan firasat ini bila kembarannya dalam bahaya. Dan firasat ini gak tercipta untuk anak yang lahir sendirian”
“Jadi ? Arola akan mati ?” Keduanya hanya diam dan pasrah pada apa yang akan terjadi. Berharap semua tidak terjadi.
*****
Carola dan Dega berjalan menuju pemakaman Arola. Kini Carola telah dapat melihat lagi karena arola telah menyumbangkan korneanya. Dia sangat bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan terakhir untuk berbicara dengannya. Hanya kenangan dan prestasi terakhirnya yang tetap abadi didunia.
“La, makasih yan atas semuanya. Kamu udah mempercayakan aku untuk memiliki kornea ini dan juga Dega. Aku bangga sama kamu yang terus menerus mengalah pada semua keegoan kamu. Kamu telah buktikan siapa pemenangnya. Semoga kamu tenang disana. Meski kita berbeda dunia, kamu tetap berada dihati aku dan juga Dega” ucap Carola disamping nisan milik Arola. Carola memberikan secarik surat yang ditemukan didalam tas Arola. Dega pun membuka surat yang berupa sebuah puisi untuknya.
Awalnya aku senang dengan hadirnya sebuah cinta.
Entah darimana datangnya rasa itu.
Tapi mengapa ia pergi disaat aku mulai yakin
bahwa cinta itu memang datang untukku ?
Apa dia merasakan hal yang sama ?
Apa arti dari semua ini bila dia tak dating pada akhirnya ?
Seolah bintang berkata padaku
“Kamu bodoh untuk menantikan cinta itu. Gapailah selama rasa itu ada.”
Tapi aku tak bisa melakukannya, ada yang lebih pantas untuknya.
Kuharap semua ini segera berlalu.
Aku tak bisa memaafkan kamu cinta.
Tapi mengapa hati dan perasaan ini bisa
Meski kau tlah toreh luka sedalam apapun, cinta ini akan selalu menampuni.
Meski kau bukan untukku.
Selamat tinggal
Dega menyimpan kertas itu. Selamanya akan tersimpan. Selamat jalan Arola. Mereka pun beranjak pulang karena cakrawala telah bersiap untuk menghadirkan kemilau bintang yang tak pernah berkarat.
moga menag
BalasHapus